Skip to main content

Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Ali Naeini, mengeluarkan peringatan keras kepada entitas Zionis bahwa kekuatan militer Teheran terus meningkat setiap harinya. Dalam pernyataannya kepada Al-Mayadeen, Naeini mendesak Israel untuk mengingat kembali pukulan telak yang mereka terima dalam perang terakhir sebagai pelajaran sebelum mencoba memulai konfrontasi baru. Ia menegaskan bahwa klaim media mengenai “Iran yang lemah” hanyalah narasi kosong, sementara militer Israel sangat memahami realitas kemampuan rudal Iran yang sebenarnya.

Pernyataan ini muncul tak lama setelah pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang diiringi dengan retorika mengenai rencana serangan terhadap situs-situs nuklir Iran. Menanggapi ancaman tersebut, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan melalui platform X bahwa respons Iran terhadap setiap agresi tirani akan bersifat “keras dan akan membuat musuh menyesal.”

Di sisi lain, militer Israel (IDF) menghadapi krisis internal yang mendalam. Data resmi menunjukkan bahwa tahun 2025 menjadi salah satu tahun paling berdarah bagi militer mereka, dengan total 151 tentara tewas. Mayoritas kematian, yakni 91 personel, terjadi di zona tempur—terutama di Jalur Gaza. Namun, yang mengejutkan adalah tingginya angka kematian di luar medan perang. Tercatat 21 tentara tewas akibat bunuh diri, 18 tewas dalam kecelakaan lalu lintas, dan sisanya disebabkan oleh penyakit serta insiden senjata.

Analis militer Amir Bohbot menyoroti bahwa fenomena bunuh diri telah menjadi “kekhawatiran utama” di pusat komando militer Israel. Dari 21 kasus bunuh diri pada tahun 2025, 11 di antaranya adalah personel aktif, sementara sisanya berasal dari pasukan cadangan dan dinas tetap. Sebagai respons atas krisis kesehatan mental ini, militer Israel dilaporkan telah menambah sekitar 1.000 perwira kesehatan mental ke dalam jajarannya, memastikan setiap brigade memiliki konselor organik untuk menangani trauma pasca-tugas dan mencegah kejadian fatal lebih lanjut.

Meskipun militer Israel berupaya meredam isu ini melalui program dukungan psikologis masif, angka kematian yang terus meningkat di zona tempur—termasuk satu korban tewas akibat serangan rudal Iran di Beersheba—menunjukkan kerentanan yang nyata. Kombinasi antara tekanan militer dari luar oleh poros perlawanan dan krisis mental dari dalam menciptakan tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi stabilitas pertahanan Israel di akhir tahun 2025 ini.

Sumber berita: Al-Mayadeen

Sumber gambar: Asharq Al Awsat