Skip to main content

Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, Munir Al-Barsh, memperingatkan bahwa Jalur Gaza tengah menghadapi peningkatan signifikan penyebaran berbagai virus di tengah kelangkaan obat-obatan yang dibutuhkan untuk pengobatan. Kondisi ini, menurutnya, semakin memperparah situasi kesehatan yang sudah berada di ambang kehancuran.

Dalam keterangannya kepada Al-Mayadeen, Al-Barsh menjelaskan bahwa musim dingin ekstrem telah memperburuk penderitaan hidup, kesehatan, dan medis warga Gaza, khususnya mereka yang tinggal di tempat pengungsian dan wilayah terdampak. Ia menekankan bahwa kondisi tersebut berdampak langsung dan serius terhadap pasien, lansia, serta anak-anak.

Al-Barsh juga mengungkapkan bahwa sekitar 19.000 pasien dan korban luka saat ini menunggu untuk mendapatkan perawatan di luar Jalur Gaza. Namun, Israel terus menolak izin perjalanan mereka, sebuah kebijakan yang dinilai mengancam nyawa para pasien sekaligus melipatgandakan tekanan terhadap sistem kesehatan Gaza yang sudah kelelahan.

Ia menambahkan bahwa Kementerian Kesehatan Gaza mengalami kekurangan serius pasokan dasar untuk pelaksanaan operasi bedah, selain krisis obat-obatan untuk penyakit kronis. Situasi ini menempatkan tenaga medis pada tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam merespons kebutuhan kesehatan yang terus meningkat.

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa sekitar 16.500 pasien, termasuk 4.000 anak, masih menunggu evakuasi medis dari Gaza. WHO memperingatkan bahwa setiap penundaan lebih lanjut berisiko langsung terhadap keselamatan jiwa para pasien, mengingat runtuhnya sistem kesehatan di wilayah tersebut.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan bahwa sedikitnya 1.092 pasien di Jalur Gaza meninggal dunia saat menunggu evakuasi medis antara Juli 2024 hingga November 2025. Ia menegaskan bahwa angka sebenarnya kemungkinan lebih tinggi.

Dalam unggahannya di platform X, Ghebreyesus menyerukan kepada lebih banyak negara untuk membuka pintu bagi pasien Gaza dan melanjutkan evakuasi medis ke Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur. Ia menegaskan bahwa kelangsungan hidup ribuan orang bergantung pada langkah tersebut.

WHO sebelumnya juga menegaskan bahwa ribuan pasien masih menunggu persetujuan untuk bepergian guna mendapatkan perawatan medis, dan memperingatkan bahwa penundaan evakuasi pasien dalam kondisi kritis sama dengan menjatuhkan vonis mati, mengingat hampir totalnya kolaps sistem kesehatan Gaza serta keterbatasan rumah sakit dalam menyediakan perawatan khusus akibat kekurangan peralatan, obat-obatan, dan tenaga medis.

Perwakilan WHO di wilayah Palestina yang diduduki, Peter Piper, turut memperingatkan bahwa pemulihan pasien dengan kondisi serius dapat memakan waktu hingga 10 tahun jika proses evakuasi medis tidak segera diperluas sesuai kebutuhan mendesak.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: Fars News Agency