Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengecam keras serangan militer Angkatan Laut Amerika Serikat terhadap kapal tanker minyak Venezuela di lepas pantai negaranya, menyebutnya sebagai contoh nyata “pembajakan negara”.
Dalam pernyataannya pada Kamis malam, Baghaei menegaskan, “Penahanan dan penyitaan kapal dagang milik negara lain oleh Amerika adalah bentuk pengabaian hukum internasional yang jelas dan pelanggaran terang-terangan terhadap prinsip-prinsip yang mengatur keamanan dan keselamatan navigasi internasional.”
Ia menambahkan, upaya untuk membenarkan tindakan tersebut dengan mengacu pada hukum domestik AS beserta sanksi ilegalnya sama sekali tidak mengubah sifat ilegal dan kriminal dari apa yang disebutnya sebagai “perampokan bersenjata di laut”.
Baghaei juga memperingatkan konsekuensi serius dari kelanjutan perilaku sewenang-wenang ini terhadap perdamaian, keamanan, dan perdagangan internasional, serta menekankan tanggung jawab semua pemerintah dan lembaga internasional terkait untuk menentang tindakan ilegal ini dan meminta pertanggungjawaban Amerika.
Sementara itu, Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, menegaskan bahwa penyitaan kapal tanker Venezuela oleh Amerika Serikat merupakan tindakan “pembajakan laut”. Ia menyebut operasi militer AS di Karibia yang menahan kapal tersebut sebagai era baru: era pembajakan maritim kriminal di kawasan tersebut.
“Mereka menculik awak kapal, merampas kapal, dan membuka era baru: era pembajakan maritim kriminal di Karibia,” kata Maduro saat menghadiri acara kenegaraan yang disiarkan televisi pemerintah.
Ia menambahkan, “Mereka melakukan tindakan kriminal yang sama sekali ilegal dengan melancarkan serangan militer serta operasi pembajakan dan perampokan terhadap kapal dagang sipil, sebuah kapal damai, layaknya bajak laut Karibia.”
Maduro menegaskan bahwa kapal tersebut dicegat saat mendekati Samudra Atlantik, di utara Trinidad dan Tobago, dan menuju Kepulauan Grenada. Kapal itu membawa 1,9 juta barel minyak yang telah dibayar oleh Venezuela untuk pasar internasional.
Presiden Venezuela itu juga menyampaikan keprihatinannya terkait keberadaan awak kapal yang “hilang,” menandai bahwa hingga saat ini tidak ada yang mengetahui posisi mereka, dan ia telah memerintahkan langkah-langkah hukum dan diplomatik yang tepat.
Ia menegaskan bahwa Venezuela akan memastikan perlindungan semua kapal untuk menjaga kebebasan perdagangan minyaknya dengan dunia.
Sikap Iran dan Venezuela ini menyoroti ketegangan baru di Karibia terkait intervensi militer Amerika terhadap perdagangan minyak negara lain, yang dianggap kedua negara sebagai pelanggaran hukum internasional dan ancaman serius terhadap keamanan maritim global.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: Al Jazeera



