Pasukan pendudukan Israel pada Senin, 8 Desember 2025, menyerbu markas Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) di lingkungan Sheikh Jarrah, Jerusalem yang diduduki. Menurut sumber lokal dan Gubernur Jerusalem, pasukan Israel masuk dengan kekuatan besar, menyita ponsel para penjaga keamanan, menahan mereka, menutup seluruh area, dan melakukan penggeledahan menyeluruh di dalam gedung. Pemerintah lokal Palestina menyebut tindakan ini sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional, imunitas lembaga PBB, serta Konvensi dan resolusi PBB, termasuk Resolusi Dewan Keamanan 2730 yang disahkan pada Mei 2024.
Gubernur Jerusalem menegaskan bahwa serangan ini datang setelah rangkaian serangan serupa oleh pemukim dan anggota Knesset ekstremis, terutama setelah pemerintah Israel melarang UNRWA beroperasi di kota tersebut—keputusan yang memaksa staf internasional meninggalkan Jerusalem, sementara staf lokal kebetulan tidak berada di kantor saat penggerebekan.
Komisioner Jenderal UNRWA, Philippe Lazzarini, mengecam serbuan tersebut sebagai “pengabaian mencolok terhadap kewajiban Israel untuk melindungi fasilitas PBB,” memperingatkan bahwa membiarkan tindakan seperti ini “membuka preseden berbahaya yang bisa ditiru di seluruh dunia.” Ia juga menyoroti kampanye disinformasi berkelanjutan Israel terhadap UNRWA dan upaya memindahkan tanggung jawab badan itu ke lembaga PBB lain seperti UNHCR. Juru bicara UNRWA Jonathan Fowler menambahkan bahwa fasilitas UNRWA “tetap merupakan properti PBB”, dan menegaskan bahwa perangkat IT, perabotan, serta properti lain disita selama penggerebekan.
Sementara itu, serangan Israel di Jalur Gaza kembali menelan korban. Seorang pemuda Palestina gugur akibat luka dari serangan drone Israel di rumahnya di barat Deir al-Balah, dan seorang perempuan tewas oleh tembakan drone di Kamp Halawa, Jabalia, menurut koresponden Al-Mayadeen. Artileri Israel juga menggempur wilayah timur Khan Younis, menyebabkan korban sipil, sementara drone kembali menghantam tenda-tenda pengungsi dekat pasar valuta di Gaza City.
Serangan udara lain menghantam sebuah rumah di barat Deir al-Balah, melukai sejumlah warga. Enam pengungsi juga terluka ketika drone Israel menargetkan tenda mereka di lingkungan Shuja’iyya, Gaza timur. Di utara, pasukan Israel membakar sisa bangunan Rumah Sakit Indonesia di Beit Lahia—fasilitas yang sebelumnya sudah dihantam berkali-kali—memperburuk situasi kemanusiaan yang sudah kritis. Penembakan terhadap warga sipil juga dilaporkan di utara Rafah.
Kementerian Kesehatan Gaza mengumumkan bahwa dalam 24 jam terakhir, lima warga gugur—tiga syahid baru dan dua jenazah yang berhasil dievakuasi—dan sebelas warga lain terluka. Kementerian menegaskan masih banyak korban tertimbun reruntuhan karena tim ambulans tidak mampu mencapai lokasi. Sejak gencatan senjata 11 Oktober 2025, jumlah syahid mencapai 376 dan 981 terluka, dengan 626 jenazah berhasil ditemukan. Jika dihitung sejak 7 Oktober 2023, total korban mencapai 70.365 syahid dan 171.058 terluka.
Di Tepi Barat, dua pemuda Palestina gugur akibat tembakan pasukan Israel pada Minggu malam di timur Qalqilya, setelah kendaraan mereka ditembaki di dekat desa Azzun. Otoritas Sipil kemudian menginformasikan identitas syahid: Mu’men Nidal Abu Riyash (19 tahun) dan Bara’ Bilal Issa Qablan, sementara seorang pemuda lain, Muhammad Saeed Taha Hussein, ditangkap.
Seiring meningkatnya agresi militer di Tepi Barat, Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich mengumumkan rencana pemerintahannya untuk menggelontorkan 2,7 miliar shekel guna mendirikan 17 permukiman ilegal baru dalam lima tahun mendatang—sebuah eskalasi agresif untuk memperluas kolonisasi Israel di wilayah Palestina dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Al Jazeera



