Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, menyatakan bahwa Iran mampu berdiri teguh menghadapi serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat berkat arahan langsung Pemimpin Tertinggi. Ia menyampaikan hal itu dalam konferensi pers memperingati Pekan Parlemen dan mengenang Ayatullah Modarres beserta para syuhada perang 12 hari.
Qalibaf mengatakan bahwa konferensi pers tersebut awalnya dijadwalkan pada Juni, namun tertunda akibat agresi yang terjadi. Ia memuji rakyat Iran yang menurutnya dengan penuh cinta dan kebanggaan mengesampingkan kekurangan pemerintah dan bersatu menghadapi serangan musuh. Ia menegaskan bahwa kekuatan utama Iran terletak pada rakyatnya, yang ia gambarkan sebagai inti kokoh berjumlah 90 juta orang yang setia dan siap menghadapi agresor.
Ia menjelaskan bahwa sejak menit-menit awal serangan, Pemimpin Tertinggi segera menunjuk para komandan pengganti untuk menggantikan mereka yang gugur, dan memberikan arahan langsung. Qalibaf mengklaim bahwa Iran berhasil mengendalikan wilayah udara dan darat musuh selama hampir lima hari, dan bahwa pada hari keenam serta ketujuh pihak lawan mulai berupaya menghentikan perang. Menurutnya, keberanian rakyat, ketegasan angkatan bersenjata, serta kebijaksanaan Pemimpin Tertinggi membuat musuh terpaksa mundur.
Ia menilai kecil kemungkinan terjadinya serangan baru dalam waktu dekat. Namun ia menyebut operasi Iran sebelumnya yang diberi nama Janji Setia 1, 2, dan 3 sebagai pengalaman taktis dan teknis penting bagi militer Iran. Ia menegaskan bahwa jika terjadi agresi baru dari Amerika Serikat atau Israel, respons Iran akan lebih keras, lebih presisi, dan lebih efektif.
Dalam bidang diplomasi, Qalibaf mengkritik Amerika Serikat yang ia sebut sebagai penyebab utama kebuntuan negosiasi. Ia menuduh Washington tidak menghendaki kesepakatan yang adil, melainkan ingin memaksakan tuntutan sepihak dan membuat pihak lain menyerah. Ia menyebut bahwa ketidakbersediaan Iran untuk tunduk sudah terlihat saat perang 12 hari, termasuk ketika Iran melancarkan serangan balasan pada 13 Juni dan tetap melanjutkan perundingan di Amman pada 15 Juni. Ia menyoroti bahwa setelah memahami kekuatan Iran, Amerika justru menuntut pembatasan kemampuan rudal hingga 300 kilometer, padahal mereka sendiri melanggar hukum internasional dan menyerang negara-negara di kawasan.
Qalibaf memaparkan perkembangan kerja sama antara parlemen dan lembaga kehakiman yang menurutnya kini lebih lancar daripada sebelumnya. Ia menerangkan bahwa nota kesepahaman yang ada bertujuan untuk mempermudah penyelesaian keluhan warga. Mekanisme kerja sama tersebut berjalan dalam tiga tingkatan: Dewan Tinggi di pusat, komite-komite terkait di parlemen, serta struktur koordinasi di provinsi dan kota. Ia menyebut bahwa lebih dari 140 pertemuan sudah digelar di berbagai daerah dan membantu penyelesaian persoalan masyarakat, termasuk langkah bersama dalam meninjau ulang Undang-Undang Acara Pidana.
Mengenai isu nuklir, Qalibaf menegaskan bahwa pengeboman fasilitas nuklir Iran oleh Amerika Serikat dan Israel merupakan pelanggaran terang terhadap Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan peraturan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Ia mengkritik sikap diam IAEA dan menyebut bahwa perbaikan dan pengamanan fasilitas yang terdampak memerlukan jadwal teknis yang jelas. Ia juga mengatakan bahwa kebijakan luar negeri Eropa kini berada pada titik lemahnya karena keputusan-keputusan yang menurutnya tidak mandiri dan berada di bawah tekanan Amerika Serikat, termasuk aktivasi mekanisme pemicu setelah AS keluar dari kesepakatan nuklir.
Ia menekankan bahwa Undang-Undang penghentian komitmen Iran terhadap IAEA kini telah diterapkan sepenuhnya. Pengaturan dan pengawasan pelaksanaannya, menurut Qalibaf, berada di bawah tanggung jawab Dewan Keamanan Nasional Tertinggi sesuai mandat undang-undang tersebut.
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam acara peringatan Hari Internasional Penyandang Disabilitas menegaskan bahwa tidak ada kekuatan asing yang dapat menaklukkan bangsa yang bersatu. Ia mengingatkan kembali pengalaman perang Iran–Irak 1980–1988 ketika, menurutnya, seluruh dunia mendukung rezim Ba’ats Irak untuk menggulingkan Republik Islam, namun gagal berkat dukungan rakyat Iran. Ia menyamakan hal itu dengan perang 12 hari baru-baru ini, yang menurutnya dimulai dengan dalih-dalih serupa oleh Israel dan Amerika. Pezeshkian menyatakan bahwa para penyerang berharap rakyat Iran turun ke jalan melawan pemerintah, namun rakyat justru memperlihatkan dukungan penuh kepada negara dan menggagalkan harapan tersebut.
Pezeshkian menegaskan bahwa pemerintah wajib berdiri bersama rakyat dan bekerja untuk mengatasi krisis serta memperkuat martabat dan kemandirian negara. Ia menilai bahwa pembangunan yang timpang dalam beberapa dekade terakhir menciptakan banyak persoalan, dan pemerintah kini berupaya mengatasinya melalui partisipasi rakyat. Ia mengatakan bahwa tidak ada tantangan besar yang dapat diatasi tanpa keterlibatan masyarakat dari seluruh kalangan, bahasa, dan etnis di Iran.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: Press TV



