Israel kembali melakukan pelanggaran gencatan senjata dengan membombardir sejumlah wilayah di Jalur Gaza pada Minggu, 30 November 2025. Serangan udara, tembakan artileri, dan operasi penghancuran dilaporkan terjadi dari Gaza utara hingga Gaza selatan, meski perjanjian gencatan senjata masih berlaku sejak Oktober lalu.
Sumber-sumber lokal menyebutkan bahwa pesawat tempur Israel melancarkan serangan intensif di sebelah timur Kamp Al-Bureij di Gaza tengah dan menyerang enam lokasi di timur Rafah. Artileri Israel juga menembakkan peluru ke sebuah rumah di Bani Suheila, timur Khan Yunis. Pasukan Israel melepaskan tembakan dalam jumlah besar di sekitar poros Morag di utara Rafah, sementara di timur Khan Yunis mereka melakukan operasi penghancuran bersamaan dengan tembakan artileri di area yang dikenal sebagai garis kuning.
Serangan turut menghantam timur lingkungan Shuja’iyya di Gaza City, disertai detonasi tiga perangkat robotik di wilayah timur kota tersebut. Suara ledakan terdengar hingga ke berbagai penjuru Jalur Gaza. Di bagian utara, helikopter Israel melepaskan rentetan tembakan ke arah timur Jabalia.
Kementerian Kesehatan Gaza pada Sabtu mengumumkan bahwa sebanyak 354 warga tewas dan 906 lainnya terluka sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 11 Oktober 2025. Dengan pembaruan data per Minggu, jumlah korban sejak gencatan senjata meningkat menjadi 356 tewas dan 908 luka, sementara total korban sejak 7 Oktober 2023 telah mencapai 70.103 tewas dan 170.985 luka. Sebagian korban masih berada di bawah reruntuhan atau di jalan-jalan yang tidak dapat dijangkau karena intensitas serangan.
Kantor Media Pemerintah Gaza menyatakan bahwa Israel telah melakukan 591 pelanggaran gencatan senjata selama lebih dari 50 hari, yang menyebabkan ratusan korban jiwa dan luka-luka. Kantor tersebut mengecam tindakan Israel yang dinilai membahayakan peluang stabilitas dan menegaskan bahwa hanya tekanan internasional yang dapat memaksa Israel menghormati hukum internasional. Pihaknya juga menegaskan bahwa Israel bertanggung jawab atas seluruh dampak kemanusiaan dan keamanan yang timbul dari pelanggaran berulang tersebut.
Pihak berwenang Gaza memperkirakan sekitar 9.500 orang masih hilang, baik tertimbun bangunan maupun belum diketahui nasibnya setelah dua tahun perang berlangsung. Sementara itu, dimulainya hujan dan angin kencang memperburuk kondisi para pengungsi di kamp-kamp yang kekurangan tenda dan caravan akibat larangan Israel terhadap masuknya perlengkapan kemanusiaan.
Israel pada hari yang sama kembali melakukan serangan darat, laut, dan udara di Gaza City, bagian utara, dan wilayah selatan Gaza, memperpanjang rangkaian pelanggaran terhadap gencatan senjata yang telah disepakati.
Sumber berita: Al-Mayadeen
Sumber gambar: Al Jazeera



