Skip to main content

Pejabat Amerika Serikat yang dihubungi Reuters pada Sabtu, 29 November 2025, mengatakan mereka terkejut dengan pengumuman Presiden AS Donald Trump mengenai penutupan total wilayah udara Venezuela. Mereka mengaku tidak mengetahui adanya operasi militer AS yang sedang berlangsung yang dapat menjadi alasan pemberlakuan langkah ekstrem tersebut.

Trump, dalam unggahannya di Truth Social, menulis: “Kepada semua maskapai, pilot, pengedar narkoba, dan pelaku perdagangan manusia: mulai saat ini, anggap seluruh ruang udara Venezuela dan sekitarnya sepenuhnya tertutup.”
Namun ia tidak memberikan rincian tambahan, memicu kebingungan serta kekhawatiran di Caracas.

Pemerintah Venezuela mengecam pernyataan itu sebagai “ancaman kolonial” yang melanggar kedaulatan dan hukum internasional. Caracas juga menilai langkah tersebut setara dengan penangguhan sepihak penerbangan deportasi—yang selama beberapa bulan terakhir telah memulangkan hampir 14.000 warga Venezuela dari AS.

Sementara pejabat Caracas terus mengecam imperialisme AS secara umum, mereka tampak berhati-hati menghindari penyebutan langsung nama Trump, yang menurut sumber keamanan dan diplomatik merupakan upaya menahan eskalasi.

Pernyataan Trump muncul setelah FAA memperingatkan maskapai tentang potensi bahaya terbang di atas Venezuela akibat memburuknya keamanan dan meningkatnya aktivitas militer. Pemerintah Venezuela kemudian mencabut izin operasi enam maskapai internasional yang sebelumnya menghentikan penerbangan setelah peringatan FAA.

Letjen (Purn.) David Deptula, yang memimpin zona larangan terbang di Irak utara pada 1998–1999, mengatakan bahwa deklarasi Trump justru menimbulkan lebih banyak pertanyaan, menegaskan bahwa penerapan zona larangan terbang sejati memerlukan tujuan, perencanaan, dan sumber daya besar.

Reuters melaporkan bahwa pemerintahan Trump tengah mempertimbangkan berbagai opsi terhadap Venezuela, termasuk upaya menggulingkan Maduro dan operasi yang berkaitan dengan tuduhan penyelundupan narkoba—tuduhan yang dibantah oleh pemerintah Venezuela. Militer AS dilaporkan telah bersiap memasuki fase operasi baru setelah pengerahan besar-besaran di Karibia dan hampir tiga bulan serangan terhadap kapal yang diduga membawa narkoba di lepas pantai Venezuela. Trump juga disebut memberikan wewenang untuk operasi CIA berskala tertutup.

Presiden Nicolás Maduro menegaskan bahwa Trump sedang berupaya menggulingkannya dan bahwa rakyat serta militer Venezuela akan menolak setiap intervensi.

Di Tehran, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengecam keras langkah Trump. Ia menyebut pengumuman itu sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap norma hukum internasional, termasuk aturan transportasi udara internasional, dan menyebutnya tindakan sewenang-wenang yang membahayakan keselamatan penerbangan global. Ia memperingatkan bahwa tindakan tersebut menambah rangkaian provokasi ilegal AS terhadap kedaulatan Venezuela dan dapat membawa dampak serius bagi perdamaian dan keamanan internasional.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: BBC