Skip to main content

Pada Minggu, 30 November 2025, Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan melakukan kunjungan resmi ke Tehran dan menggelar rangkaian pertemuan dengan pimpinan tertinggi Iran, membahas perkembangan regional, kerja sama ekonomi, serta prospek integrasi politik dan strategis dunia Islam.

Dalam pertemuan dengan Presiden Republik Islam Iran, Masoud Pezeshkian, kedua pihak menekankan perlunya memperdalam hubungan Iran–Turki di tengah situasi sensitif kawasan. Presiden Pezeshkian menegaskan bahwa Iran dan Turki adalah bangsa saudara dan mengatakan bahwa “perbatasan yang dilintasi perdagangan, ilmu pengetahuan, dan budaya tidak akan pernah dilintasi terorisme dan senjata.” Ia menilai bahwa sebagian krisis di kawasan merupakan hasil konspirasi dan campur tangan pihak-pihak yang ingin menghambat kemajuan negara-negara Muslim, dan karena itu negara-negara Islam perlu memperluas integrasi strategis mereka.

Pezeshkian juga mengangkat pengalaman Eropa yang berhasil mengurangi pentingnya batas negara dan membangun struktur keuangan serta politik bersama. Ia menyatakan bahwa dunia Islam, dengan kesamaan budaya yang lebih dalam, mampu mencapai tingkat kerja sama yang lebih tinggi jika arus perdagangan, pengetahuan, dan budaya dapat saling terhubung. Presiden Iran menegaskan bahwa dalam situasi ketika musuh bersama meningkatkan tekanan terhadap bangsa-bangsa Muslim, negara-negara Islam harus saling memudahkan, bukan mempersulit hubungan.

Dalam kesempatan itu, Hakan Fidan menyampaikan salam Presiden Turki kepada Pezeshkian dan menekankan pentingnya memperluas kerja sama ekonomi, perdagangan, dan regional. Ia memuji visi presiden Iran mengenai persatuan dunia Islam dan menyebut bahwa perselisihan internal telah menyia-nyiakan waktu berharga di kawasan. Menurutnya, “waktunya telah tiba bagi negara-negara Islam untuk meningkatkan kerja sama melalui tindakan bersama yang setara dan terkoordinasi.” Ia juga menilai bahwa Iran pascarevolusi bergerak maju dengan kecepatan dan vitalitas “seperti anak panah yang melesat dari busurnya.”

Selain bertemu presiden, Hakan Fidan juga mengadakan pembicaraan dengan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani. Kedua pihak menekankan perlunya koordinasi erat antara Iran dan Turki dalam mengelola krisis regional, khususnya perkembangan terbaru di Suriah dan Gaza, serta membahas “peran destruktif entitas Zionis” dalam instabilitas kawasan. Pertemuan tersebut juga menyinggung kemungkinan ekspansi kerja sama ekonomi dan transit antara kedua negara.

Pada malam hari, Fidan bertemu dengan Ketua Majelis Permusyawaratan Islam (Parlemen Iran), Mohammad Bagher Ghalibaf. Pembicaraan mencakup hubungan bilateral, kerja sama ekonomi, isu keamanan, dan perkembangan politik regional. Ghalibaf menekankan pentingnya memanfaatkan potensi ekonomi perbatasan, kawasan perdagangan bebas bersama, perdagangan sektor swasta, serta penguatan saluran resmi antarnegara. Ia mengungkapkan bahwa volume pertukaran ekonomi Iran–Turki saat ini sekitar 20 miliar dolar, dengan target bersama mencapai 30 miliar dolar, dan bahwa pencapaian tersebut membutuhkan intensifikasi kerja sama.

Ghalibaf juga menyoroti tekanan sepihak Amerika Serikat terhadap Iran, namun menilai hubungan Iran–Turki tetap terjaga di tingkat “yang dapat diterima,” meskipun keduanya harus memperkuat hubungan lebih jauh untuk mencapai target bersama. Ia menegaskan bahwa Iran dan Turki dalam beberapa tahun terakhir telah memiliki kerja sama efektif di bidang keamanan, ekonomi, dan politik, serta menyatakan apresiasi atas dukungan pemerintah, parlemen, dan rakyat Turki kepada Iran selama “perang 12 hari.”

Dalam pembahasannya, Hakan Fidan menilai bahwa ancaman utama keamanan kawasan adalah tindakan ekspansionis Israel, yang menurutnya terlihat jelas melalui serangkaian serangan terhadap Gaza, Palestina, Lebanon, Iran, dan bahkan Qatar. Ia menegaskan bahwa Iran dan Turki adalah “sahabat dalam masa-masa sulit” dan bahwa kerja sama keduanya merupakan bagian penting dari stabilitas kawasan.

Serangkaian pertemuan ini menegaskan bahwa baik Iran maupun Turki memandang momentum saat ini sebagai titik krusial dalam hubungan kedua negara—baik dalam menghadapi tekanan geopolitik, memperkuat koordinasi regional, maupun membuka jalan bagi peningkatan kerja sama ekonomi dan integrasi strategis antarnegara Islam.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: IRNA