Delegasi pimpinan Gerakan Perlawanan Islam Hamas pada Minggu, 23 November 2025, bertemu di Kairo dengan Kepala Badan Intelijen Umum Mesir, Menteri Hassan Rashad. Pertemuan tersebut membahas fase kedua dari perjanjian gencatan senjata serta perkembangan situasi di Jalur Gaza.
Dalam pernyataannya, Hamas menegaskan komitmen penuh terhadap pelaksanaan fase pertama perjanjian, sambil menyampaikan bahwa:
“Penghentian pelanggaran Zionis merupakan syarat penting agar kesepakatan tidak runtuh. Mekanisme pemantauan harus dilakukan secara jelas dengan keterlibatan mediator, untuk memastikan setiap pelanggaran segera dihentikan sehingga tidak terjadi tindakan sepihak yang memicu eskalasi.”
Delegasi Hamas juga membahas penanganan darurat mengenai para pejuang Rafah melalui para mediator, seraya menekankan bahwa komunikasi dengan mereka telah terputus. Gerakan tersebut menyampaikan apresiasi terhadap upaya mediator sejak penghentian perang dan menyampaikan salam kepada kepemimpinan Mesir.
Sebelumnya, Hamas menyatakan penolakan terhadap upaya pemerintah pendudukan di bawah Benjamin Netanyahu yang berusaha memberlakukan kondisi baru di Gaza di luar kesepakatan. Hamas menuntut mediator untuk segera menekan Israel agar menghentikan pelanggaran.
Hamas menegaskan:
“Peningkatan pelanggaran Israel menempatkan mediator dan pemerintahan AS pada ujian moral dan politik. Mereka harus mencegah upaya pendudukan meruntuhkan perjanjian gencatan senjata.”
Gerakan itu menambahkan bahwa pelanggaran-pelanggaran tersebut telah menyebabkan gugurnya ratusan warga akibat serangan udara dan tindakan pembunuhan dengan dalih yang direkayasa. Selain itu, Israel juga mengubah garis penarikan militernya secara sepihak, bertentangan dengan peta yang disepakati sebelumnya.
Meskipun gencatan senjata telah diumumkan, serangan Israel tetap berlangsung. Pada hari yang sama, 22 warga Palestina — termasuk anak-anak — gugur akibat pengeboman baru.
Pada malam hari, Hamas mengecam dengan keras serangan udara Israel yang mengguncang Beirut selatan, menyatakan bahwa:
“Serangan ini merupakan agresi pengecut, pelanggaran jelas terhadap kedaulatan Lebanon, dan upaya menyeret kawasan ke dalam konfrontasi yang hanya menguntungkan pendudukan.”
Gerakan itu menyatakan bahwa penyerangan terhadap wilayah padat penduduk pada siang hari:
“Mengungkapkan terorisme terorganisir yang dilakukan pendudukan, serta upaya memaksakan realitas baru dan memberikan tekanan psikologis terhadap kekuatan perlawanan.”
Hamas menegaskan solidaritasnya penuh dengan Lebanon dan menyatakan bahwa:
“Darah para syuhada hanya akan mempererat barisan rakyat Lebanon dalam menghadapi hegemoni Amerika-Zionis.”
Serangan tersebut diluncurkan setelah Israel mengklaim telah menargetkan komandan senior Hizbullah, Haitham Ali Tabatabai (Abu Ali Tabatabai). Selain pembunuhan tersebut, sejumlah warga sipil luka-luka dan sebuah bangunan tempat tinggal hancur total.
Sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam, mengeluarkan pernyataan belasungkawa atas gugurnya Tabatabai dan menyebutnya sebagai:
“Pejuang yang mempersembahkan hidupnya untuk jalan pembebasan Al-Quds, dan syahid bersama saudara-saudaranya dalam serangan kriminal Zionis di Beirut.”
Al-Qassam juga menekankan peran strategis Tabatabai dalam mendukung rakyat Palestina, memperkuat front perlawanan, serta keterlibatannya dalam Pertempuran Badai Al-Aqsa dan operasi perlawanan lintas-front.
Gerakan Jihad Islam melalui Brigade Al-Quds turut menyampaikan belasungkawa, menyebut bahwa:
“Haitham Tabatabai adalah salah satu pilar utama perlawanan Islam di Lebanon, simbol poros perlawanan, dan penopang perjuangan Palestina.”
Pernyataan itu ditutup dengan janji:
“Kami akan melanjutkan jalan Al-Quds — jalan para syuhada — hingga seluruh tanah Palestina terbebas dari penjajahan.”
Kementerian Kesehatan Lebanon mengonfirmasi bahwa serangan tersebut menewaskan 5 orang dan melukai 28 lainnya.
Dilansir dari berbagai sumber.
Sumber gambar: Dawn


