Skip to main content

Lebih dari satu bulan sejak diberlakukannya gencatan senjata di Gaza berdasarkan rencana Presiden AS Donald Trump, tahap kedua dari kesepakatan tersebut belum juga dimulai. Ini terjadi meskipun fase pertama telah terlaksana hampir sepenuhnya: seluruh tawanan Israel yang masih hidup telah diserahkan, proses pemulangan jenazah berjalan, dan pasukan Israel mundur dari kawasan padat pengungsi di bagian barat Jalur Gaza hingga garis demarkasi sementara yang disebut Garis Kuning.

Namun keterlambatan memasuki fase kedua menimbulkan pertanyaan besar: apakah hambatan ini bersifat teknis, atau merupakan keputusan politik untuk mempertahankan status quo dan mengubah fase sementara menjadi realitas permanen?

Tahap kedua kesepakatan mencakup penarikan Israel dari seluruh wilayah timur, selatan, dan utara Gaza yang masih berada dalam kontrol militernya. Langkah ini akan mengakhiri sebagian besar kehadiran militer Israel dan membuka jalan bagi fase ketiga — penarikan penuh dan penyerahan administrasi kepada lembaga internasional sementara bernama Dewan Perdamaian, yang bertugas memulai rekonstruksi dan memfasilitasi kembalinya pengungsi.

Secara teoritis, semua prasyarat fase kedua telah terpenuhi, namun pelaksanaannya tetap tertunda.

Menurut analisis sumber Palestina dan regional, keterlambatan bukan sekadar persoalan teknis, tetapi bagian dari strategi Israel untuk mempertahankan keuntungan militer dan politik. Israel menandatangani kesepakatan di bawah tekanan Amerika, namun tetap berusaha mempertahankan tujuannya, termasuk:

  • Mengubah struktur demografi Gaza melalui pemindahan penduduk.
  • Menghancurkan kemampuan perlawanan di wilayah yang masih berada di bawah kontrol militer Israel.
  • Mencapai apa yang disebut PM Benjamin Netanyahu sebagai “kemenangan telak” melalui kontrol sepihak atas tata kelola dan keamanan Gaza pascaperang.

Dengan mempertahankan kendali atas sekitar 53% wilayah Gaza — tanpa pertempuran tambahan — Israel secara de facto telah melaksanakan “perlucutan senjata” sementara fase kedua justru dirancang untuk membahas isu tersebut.

Selain itu, penutupan perlintasan dan pembatasan bantuan — termasuk tenda dan tempat penampungan — memperburuk kondisi hidup warga Gaza dan memfasilitasi tekanan demografis yang mempercepat perpindahan penduduk.

Secara strategis, penundaan memungkinkan Israel untuk:

  1. Menjadikan Garis Kuning sebagai perbatasan permanen baru, menciptakan realitas geopolitik pascaperang di luar kerangka kesepakatan.
  2. Menciptakan tekanan agar Hamas menerima persyaratan tambahan, terutama terkait perlucutan senjata dan restrukturisasi pemerintahan Gaza.

Penundaan ini tidak hanya didorong Israel, tetapi juga didukung oleh Washington. Ada beberapa faktor utama:

  1. Ambiguitas Rencana Trump – Dokumen asli tidak menetapkan mekanisme jelas untuk pelaksanaan, termasuk peran dan struktur Dewan Perdamaian.
  2. Tekanan terhadap Hamas – AS diyakini menunda transisi ke fase berikutnya untuk menekan Hamas agar menyetujui syarat tambahan, termasuk restrukturisasi keamanan.
  3. Penataan Keamanan Amerika – Laporan menunjukkan AS berupaya membangun pangkalan militer di timur Gaza dan menghubungkannya dengan pangkalan operasi AS di Kiryat Gat, yang memonitor seluruh wilayah sejak kesepakatan dimulai.
  4. Mundur tanpa Kehilangan Kendali – Dengan struktur ini, Israel dapat “menarik diri” secara formal namun tetap mempertahankan kontrol penuh bersama Amerika.

Dengan demikian, perpanjangan fase pertama menjadi tujuan bersama Israel dan AS: mempertahankan Gaza dalam kondisi limbo politik–militer, menunda fase kedua, dan menjadikan masa transisi sebagai masa permanen.

Bagi rakyat Palestina, fase kedua adalah satu-satunya pintu menuju pemulihan: penarikan Israel, rekonstruksi, pemulihan layanan, dan kembalinya warga ke rumah mereka. Namun selama Israel dan Amerika mempertahankan jeda ini, Gaza tetap berada di bawah tekanan kolektif—tanpa perang, tapi juga tanpa solusi.

Kesimpulannya, fase kedua kesepakatan bukan hanya tertunda — ia berubah menjadi medan tarik-menarik politik. Selama Israel mempertahankan strategi penundaan dan Washington lebih berkepentingan menjaga keseimbangan kekuatan dibanding melaksanakan kesepakatan, Gaza tetap terjebak dalam jeda yang dirancang tidak untuk berakhir.

Sumber opini: Al Mayadeen

Sumber gambar: Al Jazeera