Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya 10 orang tewas dan sekitar 24 lainnya luka-luka akibat serangkaian serangan udara dan laut yang diluncurkan militer Israel di wilayah Lembah Bekaa, Lebanon timur, pada Jumat malam, 20 Februari 2026. Serangan ini menyasar beberapa lokasi padat penduduk, termasuk kota Riyaq, Badnayel, Qasr Naba, serta dataran Tamnin. Di antara puluhan korban luka, dilaporkan terdapat tiga anak-anak yang kini tengah menjalani perawatan medis.
Koresponden di lapangan mengungkapkan bahwa agresi kali ini menggunakan kombinasi serangan udara dari jet tempur dan tembakan rudal dari kapal perang yang ditempatkan di lepas pantai. Militer Israel mengeklaim bahwa serangan tersebut menargetkan “pusat komando Hizbullah” yang dituduh melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan menyimpan senjata dan dana untuk operasi militer. Salah satu korban tewas dalam serangan di Lembah Bekaa dikonfirmasi oleh Hizbullah sebagai seorang komandan senior bernama Hussein Yaghi, putra dari mantan anggota parlemen Hizbullah, Mohamed Yaghi.
Beberapa jam sebelum serangan di Lembah Bekaa, militer Israel juga melancarkan serangan udara menggunakan drone terhadap kamp pengungsi Palestina terbesar di Lebanon, Ain al-Hilweh, yang terletak di pinggiran kota Sidon. Serangan tersebut menewaskan dua orang anggota Hamas. Israel berdalih bahwa serangan itu menargetkan “pusat komando Hamas” yang beroperasi di dalam kamp, sementara pihak Hamas membantah klaim tersebut dan menyatakan bahwa bangunan yang dihantam merupakan kantor pasukan keamanan gabungan yang bertugas menjaga stabilitas di dalam kamp.
Rangkaian serangan pada Jumat ini menambah daftar panjang pelanggaran sistematis terhadap perjanjian gencatan senjata yang ditandatangani pada 27 November 2024 serta Resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 1701 tahun 2006. Meskipun terdapat kerangka gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat, Israel terus melakukan serangan rutin dengan alasan menghancurkan infrastruktur militer Hizbullah dan Hamas yang dianggap mencoba mempersenjatai diri kembali di wilayah Lebanon. Situasi ini memicu kekhawatiran internasional akan runtuhnya kesepakatan damai yang masih sangat rapuh di kawasan tersebut.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: IQNA



