Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menegaskan bahwa Israel “belum pernah merasakan kobaran perang” seperti yang dialaminya dalam konflik 12 hari terakhir, sebuah tekanan yang menurutnya mendorong Tel Aviv untuk menerima gencatan senjata di hari-hari akhir pertempuran.
Berbicara dalam sebuah acara peringatan di Mashhad untuk mengenang Hasan Tehrani Moghaddam—yang dikenal sebagai “bapak program rudal Iran”—Qalibaf menyatakan bahwa kekuatan pertahanan dan kemampuan deterrence Iran saat ini merupakan hasil pengorbanan ribuan kombatan dan syuhada yang gugur pada masa Perang Pertahanan Suci (1980–1988).
Menurutnya, para pejuang dan relawan Basij pada masa perang—yang kala itu bertempur dengan persenjataan terbatas—meletakkan dasar bagi kemampuan militer Iran saat ini. “Para syuhada inilah unsur terpenting dari setiap perubahan besar, baik dalam kekuatan rudal maupun kemajuan ilmiah,” ujarnya.
Qalibaf menekankan bahwa kemandirian ilmiah yang telah dicapai Iran lebih bernilai daripada sekadar kemampuan memproduksi rudal atau sentrifugal. Ia memuji para ilmuwan Iran yang, menurutnya, telah memastikan bahwa negara itu tidak lagi bergantung pada pihak luar dalam bidang-bidang strategis. “Mereka menunjukkan bahwa kemandirian dalam bidang paling kompleks sekalipun adalah mungkin,” katanya, seraya menyebut bahwa fondasi kemandirian tersebut kini tertanam kuat di universitas dan lembaga ilmiah Iran.
Dalam pidatonya, Qalibaf juga mengecam Israel, yang ia sebut sebagai “tumor berbahaya” yang didirikan berdasarkan keputusan yang tidak adil delapan dekade lalu. Ia menegaskan bahwa konflik 12 hari terakhir membuat Israel merasakan “kekuatan nyata” untuk pertama kalinya.
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan bahwa intelijennya berhasil membongkar sebuah jaringan sabotase di dalam negeri yang disebut berada di bawah kendali intelijen Amerika Serikat dan Israel. Jaringan itu dikatakan berupaya “mengacaukan keamanan publik” setelah kegagalan Israel dalam perang 12 hari. Menurut pernyataan tersebut, upaya sabotase itu mulai meningkat pada paruh kedua musim gugur ini.
Qalibaf juga menyinggung tantangan internal Iran, seperti korupsi dan masalah sosial, serta menekankan bahwa nilai-nilai jihad dan pengorbanan tidak hanya relevan di medan perang, tetapi harus diterapkan dalam bidang ekonomi, politik, dan kerja sosial. Ia menyebut bahwa memobilisasi masyarakat dengan berpegang pada nilai tersebut adalah jalan utama menuju “Iran yang kuat.”
Dilansir dari berbagai sumber.
Sumber gambar: Tehran Times



