Skip to main content

Sebagai tanggapan atas agresi Israel yang terus berlanjut terhadap Lebanon dan rakyatnya, Perlawanan Islam melancarkan 24 operasi militer pada Jumat, 11 Oktober 2024, hari kesembilan belas sejak dimulainya pertempuran di front selatan. Sebagian besar operasi tersebut menargetkan permukiman, situs militer, barak, serta titik konsentrasi pasukan pendudukan Israel di sepanjang perbatasan Lebanon–Palestina, menggunakan roket dan peluru artileri.

Dalam pertempuran darat, para mujahidin menargetkan kumpulan dan pergerakan pasukan Israel di sekitar kota Blida, Kfarkela, dan Yaroun, menggunakan senjata yang sesuai dengan kondisi lapangan dan medan tempur.

Sementara itu, pasukan roket Perlawanan melancarkan rentetan serangan besar yang menargetkan sejumlah pangkalan militer, permukiman, dan kota di Palestina utara yang diduduki, antara lain:

  • Wilayah Zovulun, di utara kota Haifa yang diduduki.
  • Markas komando Brigade Lapis Baja ke-7 di barak Katsavya di Dataran Tinggi Golan yang diduduki.
  • Kumpulan pasukan Israel di sebelah barat barak Rawiya di wilayah Golan yang diduduki.
  • Kota Safed yang diduduki.

Sebagai balasan atas serangan brutal Israel terhadap kota, desa, dan warga sipil Lebanon, Angkatan Udara Perlawanan Islam melancarkan serangan drone bunuh diri (kamikaze) yang menargetkan markas komando pertahanan udara Israel di Kiryat Eliezer, Haifa yang diduduki, serta di pinggiran Tel Aviv.

Dalam sebuah pernyataan, Ruang Operasi Perlawanan Islam menegaskan bahwa seluruh operasi militer dijalankan dengan koordinasi penuh dan waktu nyata antara pimpinan perlawanan dan para pejuang di garis depan.
Pernyataan tersebut juga memperingatkan para pemukim di Palestina utara yang diduduki agar menjauhi rumah-rumah yang digunakan oleh tentara Israel atau area dekat pangkalan militer, karena semua lokasi tersebut akan menjadi sasaran roket dan serangan udara perlawanan.

Dalam konferensi pers di jantung wilayah Dahiyeh, Beirut selatan, Kepala Hubungan Media Hizbullah, Komandan Syahid Haj Mohammad Afif, menyatakan bahwa musuh Israel masih gagal mencapai kemajuan di medan tempur, meskipun telah mendatangkan lebih banyak pasukan dan brigade, termasuk unit elite.
Ia menegaskan bahwa tank-tank Israel tetap berada di posisi belakang dan tidak berani maju ke garis depan, mencerminkan kerentanan moral dan taktis pasukan pendudukan.

Sementara itu, media Israel melaporkan bahwa wilayah Galilea dan Teluk Haifa mengalami eskalasi besar di lapangan, dengan rentetan roket yang ditembakkan dari Lebanon.
Channel 12 mengonfirmasi bahwa sebuah lokasi di Ramim diserang dengan rudal antitank, disusul tembakan artileri yang menewaskan dua tentara Israel di Yaroun.
Juru bicara militer Israel mengumumkan bahwa sekitar 100 roket ditembakkan dari Lebanon dalam hitungan menit, sebagian jatuh di Kfar Sold, menyebabkan empat tentara luka-luka.

Koresponden Channel 12 juga mengungkap bahwa juru bicara militer Israel mengajak sejumlah jurnalis ke perbatasan dan bahkan membawa mereka beberapa meter masuk ke wilayah Lebanon selatan untuk tujuan propaganda, sambil mengecualikan beberapa wartawan agar tidak muncul pertanyaan yang memalukan bagi pihak militer.

Sepanjang hari itu, sirene peringatan udara berbunyi sebanyak 27 kali di berbagai kawasan Palestina utara yang diduduki, terutama di permukiman Dataran Galilea Hulu, Dataran Tinggi Golan yang diduduki, serta sepanjang garis pantai dari Rosh Hanikra di utara hingga Herzliya di selatan, menandai intensitas konfrontasi yang terus meningkat di seluruh front.

Sumber berita: Al-Manar

Sumber gambar: Rai al-Youm