Ketua Majelis Permusyawaratan Islam Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menegaskan bahwa slogan perdamaian yang kini digaungkan Amerika Serikat adalah palsu. Ia mengatakan, “Ketika Amerika mengibarkan slogan perdamaian dan dialog dalam perang terakhir, pesawat pembom B-2 mereka justru sedang dalam perjalanan untuk menyerang fasilitas nuklir kami.”
Dalam kunjungannya ke provinsi Khorasan Utara, timur laut Iran, Rabu malam, 29 Oktober 2025, Qalibaf menyampaikan pidato pada konferensi mengenang para syuhada provinsi tersebut. Ia menegaskan, “Jika hari ini kita berdiri tegak melawan keangkuhan global serta Amerika yang kriminal, pengkhianat, pembohong, dan penuh tipu daya, itu berkat budaya kesyahidan.”
Ia melanjutkan, “Kita semua menyaksikan dalam perang terakhir—ketika Amerika mengibarkan panji perdamaian dan dialog—pesawat B-2 mereka pada saat yang sama bersiap membombardir fasilitas nuklir kita.”
Menurut Qalibaf, selama perang dua belas hari tersebut, sejak hari kelima dan keenam, seluruh pihak—mulai dari Amerika Serikat hingga rezim Zionis—memohon agar Iran mengurangi skala serangannya terhadap entitas Zionis. “Inilah salah satu dampak budaya kesyahidan: budaya yang menembus jalan buntu, melahirkan kekuatan, kemakmuran, dan ilmu pengetahuan. Jalan ini pula yang akan membawa keberhasilan di bidang budaya dan ekonomi,” ujarnya.
Qalibaf menambahkan, “Rezim Zionis yang membunuh anak-anak itu selalu menginginkan perang yang dipaksakan atau perdamaian yang dipaksakan. Tak diragukan lagi, selama kita menempuh jalan para syuhada, bangsa yang memilih budaya kesyahidan tidak akan pernah menyerah atau ditaklukkan. Inilah pesan Imam Khomeini—semoga Allah meridainya—yang menjadi sumber keteguhan dan kehendak kita dalam menghadapi para penindas.”
Ia menegaskan bahwa peringatan seperti ini membangkitkan kesadaran kolektif untuk terus menapaki jalan tersebut, karena satu-satunya pelindung bangsa dari kezaliman waktu adalah ingatan terhadap para syuhada.
Qalibaf menekankan bahwa “kemuliaan, kemerdekaan, dan keamanan yang kita nikmati hari ini adalah berkat para syuhada—khususnya rakyat kita sendiri. Rakyat dengan segala keragaman budaya, agama, dan mazhab, dari seluruh lapisan masyarakat, dengan kesadaran dan kewaspadaan tinggi, menjaga batas geografis dan ideologis Iran tetap utuh di saat-saat sulit. Sesungguhnya rakyat dan para syuhada adalah tiang penopang revolusi, membela Iran dan revolusi bersama pemimpin mereka.”
Ia menutup dengan menegaskan, “Warisan agung kesyahidan—logika pengorbanan dan perlawanan yang menumbuhkan kekuatan material dan spiritual bagi kita—harus dikenal, dijelaskan, dan selalu diingat.”
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: Press TV


