Skip to main content

Pasukan pendudukan Israel melancarkan serangkaian serangan ke beberapa kota di distrik Bint Jbeil dan Nabatieh di Lebanon selatan, yang menandai adanya pelanggaran baru terhadap kesepakatan gencatan senjata. Koresponden Al Mayadeen di wilayah selatan melaporkan bahwa militer Israel melancarkan beberapa serangan udara pada Rabu, 8 Juli 2026, di kota Beit Yahoun serta area di antara kota Barashit dan Beit Yahoun di distrik Bint Jbeil. Di saat yang sama, pasukan Israel juga menargetkan pinggiran kota Nabatieh al-Fawqa dan Mayfadoun di distrik Nabatieh menggunakan tembakan artileri, bersamaan dengan penjatuhan suar di dekat bukit Ali al-Taher. Pesawat tempur Israel kemudian melanjutkan agresi dengan meluncurkan serangan udara yang menyasar sekitar wilayah kota Nabatieh al-Fawqa.

Satu hari sebelumnya, militer Israel juga tercatat melaksanakan tiga operasi pengeboman di kota Deir Siryan yang terletak di distrik Marjeyoun, Kegubernuran Nabatieh. Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan Lebanon pada Selasa siang, agresi Israel terhadap Lebanon sejak perluasan wilayah serangan pada 2 Maret telah mengakibatkan 4.320 orang gugur dan 12.203 orang lainnya mengalami luka-luka. Hingga saat ini, pihak Israel terus melakukan pelanggaran gencatan senjata melalui serangan udara dari pesawat tempur maupun drone, penjatuhan bom dari helikopter ke arah warga sipil, penyisiran darat, penembakan artileri, hingga operasi penghancuran desa-desa yang memicu kerusakan masif. Salah satu dampak kerusakan terbesar dilaporkan terjadi akibat pengeboman di kota Majdal Zoun yang sampai membelah desa tersebut menjadi dua bagian.

Seluruh rangkaian serangan ini tetap terjadi meskipun pemerintah Lebanon dan Israel telah menandatangani kesepakatan kerangka kerja di bawah naungan Amerika Serikat di Washington pada bulan lalu. Menanggapi situasi tersebut, Perlawanan Islam di Lebanon menegaskan bahwa pihaknya terus memantau setiap bentuk pelanggaran yang dilakukan oleh militer Israel, seraya menekankan bahwa mereka tetap memegang hak penuh untuk mempertahankan tanah air serta melindungi rakyatnya dari agresi asing.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: Al Jazeera