Skip to main content

Komandan Pasukan Quds dalam Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, Brigadir Jenderal Ismail Qaani, menyampaikan peringatan keras yang ditujukan langsung kepada pihak yang disebutnya sebagai “penjajah dan teroris Zionis”. Dalam pidatonya, beliau menegaskan bahwa jika militer Israel tidak segera meninggalkan wilayah Lebanon Selatan atas kemauan dan kaki mereka sendiri, maka epos heroik perlawanan tahun 2000 dipastikan akan kembali terulang di tanah Lebanon. Beliau mengingatkan kembali memori sejarah bahwa tahun 2000 merupakan momentum kelam bagi militer Israel, di mana mereka terpaksa melarikan diri dalam kondisi terhina dan menanggung malu yang mendalam dari bumi Lebanon. Ismail Qaani memperingatkan bahwa jika saat ini Israel tetap bersikeras melanjutkan agresi dan mempertahankan pendudukan mereka, mereka akan diusir paksa dengan cara yang sama, yakni melalui kekalahan militer yang memalukan.

Menyikapi perkembangan eskalasi maritim dan regional ini, sebuah sumber tingkat tinggi dari kalangan keamanan dan politik Iran memberikan konfirmasi resmi kepada saluran televisi Al-Mayadeen. Sumber tersebut menegaskan komitmen geopolitik Teheran yang menyatakan bahwa Republik Islam Iran tidak akan pernah sudi membiarkan atau meninggalkan para sekutu dan sahabat perjuangan mereka di Lebanon sendirian dalam menghadapi agresi. Otoritas keamanan Iran tersebut juga melayangkan kritik tajam kepada Gedung Putih, dengan menyatakan bahwa Washington telah gagal total dalam memenuhi komitmen diplomatik yang dijanjikan terkait pemulihan keamanan di Lebanon, suatu sikap plinplan Amerika Serikat yang dinilai Teheran sebagai hal yang sama sekali tidak dapat diterima.

Sebagai bentuk respons awal dan langkah defensif konkret dalam membendung berlanjutnya agresi militer Israel yang menyasar wilayah Lebanon Selatan, pemerintah Iran telah mengambil keputusan ekstrem dengan menutup total jalur pelayaran strategis Selat Hormuz sejak hari Sabtu lalu. Langkah penutupan total koridor energi dunia ini berjalan beriringan dengan intensitas pertempuran di garis depan, di mana satuan militer dari perlawanan Islam di Lebanon (Hizbullah) terus konsisten menghadang, memukul mundur, serta meluncurkan berbagai operasi tempur guna mematahkan superioritas pasukan pendudukan Israel di sepanjang perbatasan.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: CNN