Konfrontasi antara Amerika Serikat-Israel dan Iran yang berlangsung sejak 28 Februari 2026 memasuki fase paling kritis pada Selasa malam, 7 April 2026. Presiden Donald Trump meningkatkan retorikanya dengan mengancam akan membom Iran hingga kembali ke “Zaman Batu” jika kesepakatan tidak tercapai sebelum tenggat waktu Selasa malam. Trump bahkan mengeluarkan pernyataan ekstrem yang menyebut bahwa seluruh peradaban akan musnah malam ini dan tidak akan pernah kembali jika tuntutannya diabaikan. Namun, ancaman ini memicu keretakan di internal Partai Republik; Senator Ron Johnson, sekutu dekat Trump, secara terbuka menyatakan ketidaksetujuannya terhadap penargetan infrastruktur sipil Iran. Johnson menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak sedang berperang dengan rakyat Iran dan berharap retorika tersebut hanyalah gertakan belaka.
Kekacauan di pemerintahan Amerika Serikat semakin diperparah oleh laporan mengenai disinformasi di dalam Pentagon. The Washington Post mengutip pejabat administrasi yang menyatakan bahwa Menteri Pertahanan Pete Hegseth tidak menyampaikan kebenaran kepada Presiden Trump, yang mengakibatkan presiden mengulang informasi yang menyesatkan. Hegseth menuai kritik tajam karena pesan-pesan bernada perang yang diunggah melalui akun X miliknya, serta tindakannya yang memaksa Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal Randy George, untuk segera pensiun. Senator Demokrat Chris Coons menyebut tindakan ini sebagai bagian dari pembersihan massal dan “uji loyalitas” mengerikan yang mengancam kekuatan militer nasional. Selain itu, Financial Times mengungkapkan skandal potensial di mana perantara yang bekerja untuk Hegseth mencoba melakukan investasi besar di perusahaan pertahanan raksasa tepat sebelum serangan terhadap Iran dilancarkan.
Di Teheran, agresi udara Amerika-Israel dilaporkan telah menghancurkan situs bersejarah yang sangat penting bagi kemajemukan Iran. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Ismail Baghaei, mengonfirmasi bahwa serangan di area Palestina, pusat kota Teheran, telah menghancurkan Sinagoge Rafinia yang telah berusia 70 tahun. Baghaei mengecam tindakan tersebut sebagai kejahatan keji yang menargetkan eksistensi, identitas, dan peradaban Iran. Ia menegaskan bahwa entitas yang melakukan serangan tersebut secara palsu merepresentasikan diri sebagai perwakilan kaum Yahudi, padahal mereka justru menodai gulungan Taurat dan merusak tempat ibadah yang dihormati oleh warga Yahudi Iran.
Menanggapi kehancuran tempat ibadah tersebut, pemerintah Iran menegaskan soliditas nasional yang melampaui batas agama dan etnis. Baghaei menyatakan bahwa umat Muslim, Zoroaster, Armenia, Asyur, Yahudi, hingga Kaldea berdiri sebagai satu kepalan tangan yang teguh melawan agresi brutal Amerika-Israel. Penargetan terhadap sinagoge disamakan dengan serangan terhadap masjid, gereja, sekolah, dan rumah sakit yang telah dilakukan musuh selama operasi militer berlangsung. Hingga Rabu, 8 April 2026, Teheran tetap pada posisinya bahwa seluruh elemen bangsa Iran bersatu sebagai anak-anak dari satu tanah air yang sama untuk mempertahankan kedaulatan mereka dari ancaman kehancuran total yang dilontarkan oleh Washington.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: DefenseScoop


