Skip to main content

Kepemimpinan Demokrat di DPR Amerika Serikat secara resmi melabeli Presiden Donald Trump sebagai sosok yang “benar-benar gila” menyusul ancaman terbarunya untuk memusnahkan seluruh peradaban Iran pada Selasa malam, 7 April 2026. Dalam pernyataan resmi yang dirilis melalui situs Ketua Minoritas DPR, Hakeem Jeffries, Partai Demokrat menegaskan bahwa retorika Trump merupakan guncangan bagi hati nurani kemanusiaan dan menuntut respons segera dari Kongres. Jeffries mendesak pemungutan suara darurat untuk menghentikan “perang sembrono” yang diputuskan Trump secara sepihak, sembari memperingatkan bahwa kebijakan ini dapat menjerumuskan Amerika Serikat ke dalam Perang Dunia Ketiga. Demokrat juga menyerukan kepada rekan-rekan Republik untuk berhenti memberikan pembelaan bagi perilaku ekstrem presiden dan memprioritaskan tugas nasional di atas loyalitas partai.

Krisis ini meluas ke ranah konstitusional dan ekonomi, di mana laporan dari CNN dan The Wall Street Journal mengungkapkan adanya peningkatan jumlah anggota parlemen yang menuntut aktivasi Amandemen ke-25 atau prosedur pemakzulan terhadap Trump. Para anggota Kongres menggambarkan kondisi mental presiden sebagai “terganggu secara mental” setelah Trump mengaku tidak tahu cara mengakhiri perang yang ia mulai sendiri. Di saat yang sama, rakyat Amerika Serikat mulai merasakan dampak langsung berupa lonjakan harga bensin yang tidak terkendali dan biaya hidup yang mencekik akibat penempatan pasukan besar-besaran di Asia Barat. Pakar hukum internasional turut mengecam rencana serangan terhadap infrastruktur sipil Iran sebagai pelanggaran berat terhadap hukum kemanusiaan internasional yang dapat menyeret kepemimpinan Amerika ke pengadilan perang.

Kecaman keras juga datang dari pemimpin spiritual dunia, Paus Leo XIV, yang menyebut ancaman terhadap seluruh rakyat Iran sebagai tindakan yang “tidak dapat diterima”. Dalam pesan Paskah dan pernyataan terbarunya pada Rabu, 8 April 2026, Paus memperingatkan konsekuensi kemanusiaan yang mengerikan bagi warga sipil dan anak-anak yang menjadi korban dalam eskalasi ini. Beliau menegaskan bahwa serangan terhadap infrastruktur sipil adalah pelanggaran nyata terhadap hukum internasional dan secara terbuka mendesak Presiden Trump untuk segera menemukan jalan keluar guna mengakhiri konflik. Paus memanggil para pemimpin dunia di Lapangan Santo Petrus untuk meninggalkan rencana perluasan kekuasaan, penaklukan, maupun dominasi yang mengorbankan nyawa manusia.

Hingga Rabu, 8 April 2026, agresi bersama Amerika Serikat-Israel tetap berlanjut dengan menyasar kawasan pemukiman, fasilitas pendidikan, dan pusat energi di berbagai kota di Iran. Sebagai respons, Iran terus melancarkan serangan balasan terhadap pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat serta situs-situs strategis di jantung entitas penjajah Israel. Situasi yang semakin tidak menentu ini telah menempatkan dunia pada ambang krisis energi dan kemanusiaan terdalam, sementara tekanan domestik di Washington terus memuncak agar kekuasaan perang Donald Trump segera dicabut sebelum tenggat waktu “hari penghancuran” yang ia tetapkan benar-benar dilaksanakan.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: WBUR Newsroom