Skip to main content

Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, menyatakan pada Rabu, 1 April 2026, bahwa meskipun serangan Amerika Serikat dan Israel menyasar ruang-ruang publik dan lingkungan alam, rakyat Iran akan mengubah setiap kerugian tersebut menjadi bibit harapan yang akan tumbuh menjadi pohon-pohon yang berbuah. Dalam pesannya di “Hari Alam”, Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei menyerukan kepada seluruh rakyat Iran untuk menanam dan merawat pohon buah-buahan selama musim semi ini sebagai tindakan nyata untuk membangun masa depan Iran yang cerah di tengah gempuran terhadap sekolah-sekolah serta fasilitas lingkungan. Beliau menjelaskan bahwa partisipasi aktif warga di kota maupun desa dalam penghijauan ini merupakan perwujudan dari ketahanan nasional dan komitmen untuk rekonstruksi pasca-tindakan agresi brutal. Upaya ini ditegaskan bukan sekadar aksi lingkungan, melainkan simbol perlawanan, keteguhan hati, serta loyalitas kepada para syuhada dalam menghadapi tantangan besar pada Rabu, 1 April 2026.

Di sisi lain, majalah Amerika Serikat The Atlantic memperingatkan bahwa pengerahan pasukan darat di tanah Iran adalah salah satu tugas paling berbahaya selama masa kepresidenan Donald Trump. Laporan tersebut menyebutkan bahwa operasi darat tidak menjamin perang akan berakhir dalam hitungan minggu sebagaimana dijanjikan oleh Donald Trump, tidak pula menjamin runtuhnya pemerintahan Iran atau pembukaan kembali Selat Hormuz yang penutupannya telah mengacaukan pasar energi global. Meski Donald Trump mengklaim adanya negosiasi melalui perantara, kegagalan operasi militer justru dikhawatirkan akan memicu eskalasi konflik yang berkepanjangan. Sekitar 3.500 Marinir dan pelaut dilaporkan telah tiba di kawasan pada akhir pekan lalu, dengan tambahan 3.500 personel lainnya yang diperkirakan tiba dalam beberapa minggu mendatang, melengkapi ratusan pasukan operasi khusus yang sudah berada di lapangan. Rencana militer Amerika Serikat mengindikasikan kemungkinan pengiriman pasukan ke Pulau Kharg yang menangani sekitar 90% ekspor minyak Iran dan telah menjadi sasaran serangan Amerika Serikat selama satu bulan terakhir.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pada Kamis, 2 April 2026, bahwa ia akan terus melanjutkan perang terhadap Iran sampai Selat Hormuz dibuka, sambil mengeklaim akan segera keluar dari Iran tanpa memberikan jadwal yang pasti. Hingga saat ini, Selat Hormuz tetap tertutup bagi kapal-kapal dari negara yang terlibat dalam agresi terhadap Iran. Sebagai tanggapan, Iran terus membalas agresi tersebut dengan menargetkan seluruh pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan serta target-target di dalam wilayah entitas pendudukan melalui gelombang operasi yang terukur. Situasi ini menunjukkan bahwa Teheran tetap memegang kendali atas kedaulatan maritimnya di tengah tekanan militer yang meningkat dari pihak Washington dan sekutunya.

Media massa Reuters melaporkan bahwa ketangguhan pemerintah dan militer Iran telah menyebabkan Amerika Serikat serta Israel kehilangan inisiatif strategis. Laporan tersebut mencatat bahwa kedua sekutu tersebut kini cenderung bersikap reaktif daripada proaktif dalam menentukan hasil akhir perang. Terdapat kontradiksi yang nyata antara tujuan strategis Amerika Serikat dan Israel, di mana administrasi Donald Trump kesulitan memberikan pembenaran atas serangan terhadap Iran sejak pecahnya konflik. Tepat satu bulan sejak agresi dimulai pada 28 Februari 2026, kohesi internal di bawah kepemimpinan Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei tetap solid dengan ritme serangan yang stabil terhadap kepentingan Amerika Serikat dan Israel sebagai balasan atas pelanggaran kedaulatan wilayah Iran.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: Times of Oman