Sebagai bentuk penghormatan bagi arwah para pemimpin yang gugur dan dimakamkan pada hari ini, terutama Laksamana Ali Reza Tangsiri serta penasihat militer Mayor Jenderal Jamshid Ishaqi, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan pelaksanaan lima operasi strategis skala besar pada Kamis, 2 April 2026. Operasi ini menandai dimulainya fase kedua dari gelombang ke-89 Operasi “True Promise 4” sebagai respons atas agresi Amerika Serikat dan Israel. Pasukan IRGC menggunakan kombinasi presisi yang terdiri dari rudal penjelajah Qadir, rudal balistik, serta kawanan drone bunuh diri untuk menghancurkan target-target militer utama milik musuh. Dalam laporan resminya, IRGC mengungkapkan telah menghantam empat lokasi persembunyian rahasia pasukan Amerika Serikat di luar markas besar Armada Kelima di Bahrain, yang mengakibatkan sejumlah perwira senior angkatan laut Amerika Serikat dilarikan ke rumah sakit di Manama di bawah penjagaan keamanan yang sangat ketat.
Gempuran strategis tersebut juga berhasil menghancurkan dua sistem radar peringatan dini Amerika Serikat di fasilitas angkatan laut serta di pulau-pulau milik Uni Emirat Arab (UEA). Berdasarkan perhitungan operasi yang dilakukan pada Rabu dan Kamis, IRGC mengeklaim sedikitnya 37 warga Amerika Serikat tewas dalam serangan yang menargetkan lokasi berkumpulnya para perwira di UEA. Di wilayah perairan, sebuah kapal tanker minyak milik entitas Israel bernama Eco 1 dilaporkan terbakar hebat di wilayah tengah Teluk akibat serangan langsung. Sementara itu, di bagian utara Samudra Hindia, kawanan drone Iran mengepung kapal induk USS Abraham Lincoln hingga memaksa kapal raksasa tersebut mundur ke kedalaman samudra untuk menghindari kehancuran total. Teheran menegaskan bahwa kapal induk tersebut telah berulang kali menjadi sasaran rudal penjelajah pesisir sebagai balasan atas agresi terhadap kedaulatan Iran.
Terkait jalur perdagangan energi dunia, IRGC secara resmi mengumumkan pada Kamis, 2 April 2026, bahwa Selat Hormuz kini berada di bawah kendali penuh dan tegas militer Iran. Pihak Teheran menyatakan tidak akan membuka jalur tersebut bagi musuh-musuh mereka, serta menolak mentah-mentah segala tawaran dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang dianggap konyol. Operasi gelombang ke-89 ini ditegaskan sebagai aksi terkoordinasi dan terintegrasi antara pasukan Iran dan front perlawanan terhadap konsentrasi pasukan musuh di seluruh kawasan. Melalui pernyataan nomor 52, IRGC juga membantah klaim Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengenai perlindungan warga sipil, dan menyebutnya sebagai kebohongan murni sambil menunjukkan bukti keterlibatan tentara Amerika Serikat dalam serangan terhadap rumah pimpinan serta pembantaian siswa di sekolah Minab.
Ketegasan Teheran juga merambah ke sektor teknologi dan korporasi internasional. IRGC menegaskan bahwa partisipasi Washington dalam aliansi teroris menjadikannya mitra langsung dalam setiap kejahatan perang, sehingga Iran memiliki hak penuh untuk memilih bentuk balasan yang setimpal. Sebagai peringatan keras, IRGC tetap menempatkan 18 perusahaan teknologi informasi, komunikasi, dan kecerdasan buatan Amerika Serikat dalam daftar target sah mereka. Perusahaan-perusahaan raksasa seperti Microsoft, Google, Meta, Boeing, hingga Tesla dituduh berperan aktif dalam kegiatan spionase dan operasi pembunuhan terhadap tokoh-tokoh Iran. Teheran memperingatkan bahwa setiap operasi pembunuhan lebih lanjut di dalam wilayah Iran akan memicu serangan langsung terhadap infrastruktur perusahaan-perusahaan tersebut.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Nournews



