Media massa New York Times melaporkan bahwa serangan Iran terhadap pasukan Amerika Serikat di Camp Arifjan, Kuwait, pada jam-jam awal perang ternyata jauh lebih parah daripada yang diumumkan sebelumnya. Serangan tersebut menghancurkan tiga kubah radar dan menyebabkan jatuhnya korban jiwa serta luka berat di kalangan tentara Amerika Serikat. Puluhan prajurit dilaporkan menderita luka bakar serius yang memerlukan amputasi anggota tubuh, sementara lebih dari 30 tentara lainnya masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Hingga Rabu, 11 Maret 2026, tercatat Iran telah membom 17 situs militer Amerika Serikat di kawasan tersebut dengan tujuan utama melumpuhkan sistem komunikasi, koordinasi, dan pertahanan udara Washington.
Penasihat Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Iran, Yahya Rahim Safavi, mengungkapkan dalam wawancara televisi bahwa Teheran memiliki pengawasan intelijen yang sangat kuat terhadap pergerakan musuh. Beliau menegaskan bahwa Iran menerima informasi waktu nyata (real-time) mengenai pergerakan armada Amerika Serikat, mulai dari Armada Keenam di Laut Mediterania hingga Armada Kelima di Samudra Hindia dan Laut Oman. Yahya Rahim Safavi menambahkan bahwa koordinat pesawat Amerika Serikat yang lepas landas dari wilayah domestik mereka, Pulau Diego Garcia, maupun pangkalan di Eropa, langsung terpantau oleh sistem intelijen Iran melalui kerja sama satelit dengan negara-negara mitra.
Terkait efektivitas serangan balasan musuh, Yahya Rahim Safavi menyatakan bahwa pangkalan-pangkalan yang dibom oleh Amerika Serikat sebenarnya sudah dalam keadaan kosong. Seluruh pangkalan telah dipindahkan dan sistem rudal Iran kini tersebar di lokasi-lokasi yang berbeda untuk menghindari deteksi. Beliau menegaskan bahwa perang ini akan berakhir dengan kemenangan bagi Iran, di mana pihak Teheranlah yang akan mendiktekan tuntutan kepada Amerika Serikat yang menurutnya telah dipermalukan dalam konflik ini.
Sejalan dengan klaim kekuatan militer tersebut, Wakil Komandan Tertinggi Korps Garda Revolusi Islam Ali Fadavi mengonfirmasi kepemilikan rudal bawah air berkecepatan 100 meter per detik. Beliau menyatakan bahwa teknologi langka yang hanya dimiliki oleh Iran dan Rusia ini kemungkinan besar akan dikerahkan dalam beberapa hari mendatang sebagai kejutan bagi militer Amerika Serikat. Di saat yang sama, Komandan Pasukan Dirgantara Majid Mousavi melayangkan tantangan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar berani merilis foto-foto kondisi pangkalan CENTCOM sebelum dan sesudah dihantam rudal Iran untuk menunjukkan skala kerusakan yang sebenarnya kepada publik dunia.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Anadolu Agency


