Skip to main content

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan pada hari Rabu, 4 Maret 2026, bahwa harga minyak akan segera turun begitu perang melawan Iran berakhir. Pernyataan ini muncul sesaat sebelum pertemuannya dengan Kanselir Jerman, Friedrich Merz, di Washington. The New York Times melaporkan bahwa optimisme Trump tersebut mencerminkan kesadaran politiknya bahwa lonjakan harga bahan bakar merupakan titik lemah yang berbahaya baginya di tahun pemilihan paruh waktu (midterm election). Saat ini, pasar energi global tengah didera kekhawatiran hebat setelah harga minyak dan gas melonjak tajam dalam beberapa hari terakhir akibat meluasnya konfrontasi di Timur Tengah yang mengganggu Selat Hormuz, jalur yang melintasi 20% konsumsi minyak harian dunia.

Krisis keamanan maritim semakin nyata setelah perusahaan pelayaran raksasa dunia, Hapag-Lloyd, resmi menangguhkan seluruh pemesanan pengiriman dari Afrika menuju Teluk pada hari Senin malam. Perusahaan tersebut juga memperluas kebijakan dengan menghentikan semua pelayaran kapal kontainer melalui Selat Hormuz karena risiko operasional dan keamanan yang meningkat secara ekstrem. Langkah ini diambil menyusul serangan drone dan rudal Iran yang menargetkan aset-aset AS di kawasan sebagai bagian dari Operasi True Promise 4. Penangguhan ini mencakup berbagai jenis kargo, termasuk pengiriman yang melewati pelabuhan Jebel Ali di Dubai, yang selama ini menjadi pusat logistik utama di kawasan tersebut.

Guna mengatasi lumpuhnya arus logistik, Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa ia telah memerintahkan US Development Finance Corporation (DFC) untuk menyediakan asuransi risiko politik dan jaminan keuangan dengan harga yang sangat terjangkau bagi seluruh perdagangan maritim, khususnya di sektor energi lintas Teluk. Trump menjanjikan bahwa asuransi ini akan tersedia bagi semua jalur pelayaran untuk menutupi kerugian kapal yang telah kehilangan perlindungan asuransi komersial akibat zona perang. Selain itu, ia menegaskan bahwa Angkatan Laut AS akan segera mulai mengawal kapal-kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz untuk memastikan aliran energi dunia tetap bebas, seraya memperingatkan bahwa langkah-langkah tambahan akan segera menyusul.

Namun, analis minyak yang dikutip oleh CNN pada hari Rabu, 4 Maret 2026, berpendapat bahwa faktor utama yang menutup Selat Hormuz sebenarnya bukan hanya tindakan militer Iran, melainkan keputusan perusahaan asuransi dan operator minyak yang menolak mengambil risiko di wilayah konflik. Meskipun Trump mencoba mengintervensi melalui skema asuransi pemerintah, Iran telah mempertegas posisinya dengan mengumumkan penutupan Selat Hormuz secara resmi dan mengancam akan menargetkan kapal mana pun yang tidak mematuhi peringatan mereka. Bagi para pimpinan militer dan dewan fuqaha di Teheran, blokade ini merupakan bagian integral dari pertahanan kedaulatan mereka setelah syahadah Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, yang bertujuan untuk memberikan tekanan ekonomi maksimum bagi agresor hingga mereka terpaksa menghentikan serangannya.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: BBC