Wacana mengenai kemungkinan serangan Amerika Serikat terhadap Iran meningkat secara signifikan belakangan ini, bertepatan dengan pembangunan kekuatan militer Washington di kawasan Timur Tengah serta pelaksanaan dua putaran perundingan tidak langsung dengan Teheran yang akan berlanjut pada putaran ketiga pada hari Kamis, 26 Februari 2026 di Jenewa. Namun, di balik gertakan militer tersebut, pemerintah Amerika Serikat menghadapi dilema politik domestik yang berat terkait keputusan untuk terjun ke dalam perang baru. Perpecahan ini terjadi di tingkat kepemimpinan politik, keamanan, hingga di level masyarakat, tepat sebelum pemilihan umum paruh waktu Kongres pada musim gugur mendatang yang dapat mengancam efektivitas kepemimpinan Donald Trump di sisa masa jabatannya jika Partai Republik mengalami kekalahan.
Pada tingkat politik, penasihat terdekat Presiden Donald Trump, yakni utusan khusus Steve Witkopf dan Jared Kushner, sejauh ini justru lebih memilih untuk menjauh dari opsi serangan militer. Situs web Axios melaporkan bahwa ketika Donald Trump mendiskusikan teknis serangan terhadap Iran, kedua utusan tersebut mendesaknya untuk menahan diri dan memberikan kesempatan bagi jalur diplomasi. Sebaliknya, Senator Partai Republik Lindsey Graham yang dikenal dengan sikap pro-Israel yang ekstrem, justru mendorong Donald Trump untuk segera melancarkan operasi militer terhadap Teheran. Lindsey Graham menyatakan penyesalannya karena banyak penasihat kepresidenan yang menyarankan Donald Trump agar tidak membom Iran.
Kekhawatiran serupa juga melanda jajaran pemimpin keamanan yang takut terseret ke dalam perang jangka panjang. Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Kaine memperingatkan Donald Trump dan pejabat senior lainnya bahwa kampanye militer terhadap Iran mengandung risiko signifikan, terutama potensi keterlibatan dalam konflik berkepanjangan yang sulit diakhiri. Meskipun Donald Trump membantah klaim tersebut melalui platform Truth Social dengan menyebut bahwa Jenderal Dan Kaine justru akan merasa keputusan menjadi lebih mudah jika ia memilih menyerang, media Israel i24 melaporkan sisi lain. Laporan tersebut menyebutkan bahwa sang presiden sebenarnya lebih menyukai peristiwa singkat yang berakhir dalam satu hari, namun para jenderal memperingatkan bahwa Iran bukanlah Venezuela. Serangan satu malam tidak akan menyelesaikan masalah dan justru berisiko menjadi beban politik serta ekonomi yang merusak kredibilitas Donald Trump, mengingat janji kampanyenya untuk membawa Amerika Serikat keluar dari perang abadi di Timur Tengah yang telah menelan biaya lebih dari 8 triliun dolar selama dua dekade terakhir.
Sentimen publik pun menunjukkan penolakan luas terhadap agresi militer. Jajak pendapat terbaru dari University of Maryland mengungkapkan bahwa sekitar 50% warga Amerika Serikat menentang serangan militer terhadap Iran, sementara hanya 21% yang menyatakan dukungan. Secara rinci, dukungan terhadap serangan tersebut didominasi oleh 40% pemilih Republik, namun hanya mendapat 6% dukungan dari Demokrat dan 21% dari pemilih independen. Sebaliknya, penolakan mencapai 74% di kalangan Demokrat dan 51% di kalangan independen. Angka-angka ini menjadi krusial menjelang pemilihan paruh waktu November mendatang, karena perpecahan basis massa pada isu-isu serupa sebelumnya telah terbukti menjadi penentu kemenangan, seperti kekalahan Kamala Harris yang diakibatkan oleh pendekatan pemerintahan Joe Biden terhadap perang di Gaza.
Kepercayaan publik terhadap kepemimpinan Donald Trump juga menunjukkan tren penurunan. Jajak pendapat CNN baru-baru ini memperlihatkan tingkat persetujuan keseluruhan terhadap presiden turun menjadi 36%, dengan 61% warga merasa kebijakan Donald Trump membawa negara ke arah yang salah. Sementara itu, jajak pendapat Reuters menunjukkan 6 dari 10 warga Amerika Serikat menganggap Donald Trump menjadi lebih temperamental seiring bertambahnya usia, yang mencerminkan memudarnya kepercayaan publik.
Kondisi ini semakin diperumit oleh dinamika di dalam Kongres. Laporan pers menyebutkan adanya kemungkinan pemungutan suara pekan ini mengenai resolusi yang mencegah Presiden Donald Trump melancarkan serangan ke Iran tanpa persetujuan legislatif. Senator Demokrat Tim Kaine dan Senator Republik Rand Paul telah memperkenalkan resolusi di Senat untuk mencegah aksi permusuhan terhadap Iran kecuali ada pernyataan perang resmi dari Kongres. Langkah serupa juga didorong di Dewan Perwakilan Rakyat oleh Perwakilan Republik Thomas Massie dan Perwakilan Demokrat Ro Khanna. Di tengah bayang-bayang kehilangan mayoritas di Kongres dan upaya legislasi yang membatasi wewenangnya, Donald Trump kini menghadapi komplikasi politik berlapis. Mantan diplomat Amerika Serikat Aaron David Miller menggambarkan situasi ini sebagai krisis yang dibuat oleh presiden itu sendiri, yang pada akhirnya akan sangat memengaruhi keputusan akhir yang akan ia ambil terkait Iran.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar BBC



