Dunia kembali menyaksikan puncak kemunafikan diplomatik melalui manuver terbaru Gedung Putih. Donald Trump, yang baru saja meluncurkan “Dewan Perdamaian” pada akhir Januari lalu, berencana menggelar pertemuan perdana para pemimpin dewan tersebut di Washington pada 19 Februari 2026. Pertemuan ini dikemas manis sebagai “konferensi penggalangan dana untuk rekonstruksi Gaza”—sebuah narasi yang sangat sinis mengingat entitas yang merancang pembangunan tersebut adalah pihak yang sama yang membiarkan mesin perang terus bekerja menghancurkan wilayah tersebut hingga ke akarnya.
Agenda ini bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan sebuah teater politik yang dipentaskan di Institut Perdamaian Amerika Serikat. Ironi semakin tajam karena tepat sehari sebelum konferensi “kemanusiaan” ini dimulai, Benjamin Netanyahu dijadwalkan bertemu Trump di Gedung Putih untuk menyelaraskan strategi. Dewan ini, yang diklaim Trump akan “menyelesaikan konflik global”, justru memicu kekhawatiran serius di kalangan ahli karena dianggap sebagai upaya sistematis untuk menenggelamkan peran PBB dan menggantinya dengan badan yang sepenuhnya berada di bawah kendali Washington.
Di tengah rencana megah penggalangan dana tersebut, realitas berdarah di Gaza tidak berhenti barang sejenak. Pada Jumat malam, saat para diplomat menyusun draf anggaran, pasukan pendudukan Israel justru sibuk membom bangunan di lingkungan Al-Zaytoun. Di Beit Lahia dan Jabalia, dua nyawa warga sipil melayang akibat serangan brutal yang terus berlangsung tanpa peduli pada status “gencatan senjata”. Sejak klaim gencatan senjata pada 11 Oktober tahun lalu, angka kematian telah mencapai 574 martir, dengan 1.518 luka-luka, dan 717 jenazah yang baru saja ditarik dari bawah puing-puing bangunan.
Angka-angka ini membuktikan bahwa “rekonstruksi” yang dibicarakan Trump hanyalah sebuah plester bagi luka menganga yang sengaja diciptakan. Rencana dewan untuk mengawasi pemerintahan transisi di Gaza hanyalah kedok untuk memperluas hegemoni di kawasan Asia Barat. Sementara dunia internasional dipaksa menonton drama penggalangan dana, rakyat Gaza tetap terkubur di bawah reruntuhan yang pembangunannya nanti akan dijadikan alat politik dan keuntungan ekonomi oleh mereka yang membiarkan kematian itu terjadi.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Axios



