Skip to main content

Michael Froman, Ketua Dewan Hubungan Luar Negeri (CFR), memperingatkan bahwa keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik dengan Iran merupakan langkah yang berbahaya. Dalam memo analisis mengenai Strategi Pertahanan Nasional AS tahun 2026, Froman menjelaskan bahwa konfrontasi tersebut tidak hanya bertentangan dengan prinsip dasar dokumen pertahanan Amerika, tetapi juga berisiko menciptakan lubang rawa yang dapat melumpuhkan kekuatan Washington. Di tengah keterbatasan sumber daya militer, pemerintahan Donald Trump sebenarnya berniat memusatkan kapabilitasnya untuk mempertahankan keunggulan di belahan bumi barat. Oleh karena itu, konflik apa pun dengan Iran akan merusak tujuan utama strategi tersebut dan menciptakan beban berat yang sebenarnya ingin dihindari oleh Trump.

Froman menguraikan bahwa tesis utama dari Strategi Pertahanan Nasional 2026 bersandar pada tiga pilar penting. Pertama, Amerika Serikat harus merasionalisasi pengerahan militer globalnya karena kendala sumber daya yang sangat ketat. Kedua, porsi sumber daya yang lebih besar wajib dialokasikan untuk perlindungan dalam negeri dan supremasi di wilayah barat. Ketiga, sekutu Amerika di Eropa dan Indo-Pasifik dituntut untuk memikul tanggung jawab lebih besar atas keamanan kolektif mereka sendiri. Froman menegaskan bahwa risiko serta biaya dari konfrontasi berskala penuh dengan Iran akan melampaui kapasitas yang mampu ditanggung oleh Amerika Serikat saat ini.

Muncul pertanyaan mendasar mengenai konsistensi antara strategi berbasis prioritas ini dengan ambisi internasional Trump yang cenderung intervensionis. Froman mencatat perubahan pola komunikasi Trump terhadap Iran, yang awalnya melontarkan ancaman keras di media sosial dan mengirim armada tempur besar dengan indikasi campur tangan urusan internal, namun kini bergeser menjadi tuntutan negosiasi untuk mencapai kesepakatan yang diklaim sebagai kesepakatan yang adil. Trump memiliki tiga ambisi utama terhadap Teheran, yakni penghentian total pengayaan uranium dan penghapusan cadangannya, pembatasan program rudal balistik, serta penghentian dukungan terhadap poros perlawanan. Namun, Froman menekankan bahwa Iran tidak akan pernah menyerah pada tuntutan tersebut karena tidak ingin melepaskan daya tawar yang telah dibangun dengan biaya sangat mahal.

Keputusan Trump memindahkan gugus tempur kapal induk Abraham Lincoln dari Laut Cina Selatan ke Timur Tengah dipandang sebagai upaya intimidasi. Meskipun Trump mencoba menyamakan situasi Iran dengan Venezuela untuk menunjukkan dukungannya pada perubahan rezim, Froman mengingatkan bahwa Iran memiliki karakteristik yang jauh berbeda. Eskalasi di Iran dapat memicu konflik berkepanjangan yang justru selalu dihindari oleh Trump dalam kebijakan luar negerinya. Froman menyimpulkan bahwa Iran adalah sebuah pengecualian dalam Strategi Pertahanan Nasional 2026, di mana Trump terpaksa menempuh jalur diplomasi demi menghindari jebakan perang meskipun telah menarik kekuatan militer dari kawasan lain.

Teheran sendiri sangat menyadari posisi dilematis yang dihadapi Washington. Hal ini dipertegas oleh pernyataan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, yang memperingatkan bahwa konfrontasi berskala penuh akan berlangsung sangat kejam dan memakan waktu jauh lebih lama daripada prediksi garis waktu fiktif yang selama ini dipromosikan oleh pihak Israel kepada Gedung Putih. Froman menilai bahwa kesadaran akan risiko perang jangka panjang inilah yang membuat Trump terjepit antara retorika keras dan realitas keterbatasan kekuatan Amerika di panggung dunia.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: CFR