Seorang pemuda Palestina gugur setelah ditembak oleh pasukan pendudukan Israel pada Rabu, 28 Januari 2026, di dekat pos pemeriksaan Terowongan, sebelah barat Bethlehem, wilayah selatan Tepi Barat yang diduduki. Palestinian Information Center melaporkan bahwa tentara pendudukan melepaskan tembakan peluru tajam secara membabi buta ke arah pemuda tersebut dengan tuduhan mencoba melakukan aksi penikaman. Akibat serangan tersebut, pemuda yang diidentifikasi bernama Qusay Maher Halaika, berasal dari kota Al-Shuyoukh di utara Hebron, meninggal dunia di lokasi kejadian. Menyusul insiden tersebut, pasukan pendudukan Israel segera memperketat tindakan militer dan memberlakukan pengamanan ketat di sekitar area pos pemeriksaan dengan mengerahkan tentara serta kendaraan militer dalam jumlah besar. Peristiwa ini menambah panjang daftar aksi penembakan dan serangan yang dilakukan pasukan pendudukan di Tepi Barat, yang terus meningkat di tengah agresi militer yang masih berlangsung terhadap rakyat Palestina di Gaza dan wilayah pendudukan lainnya.
Di sisi lain, tekanan internasional terhadap kebijakan Israel semakin menguat setelah sembilan negara Eropa bersama Kanada dan Jepang mengeluarkan pernyataan bersama pada Rabu kemarin. Pernyataan tersebut mengecam keras tindakan pendudukan Israel yang merobohkan markas besar Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) di Yerusalem Timur yang diduduki. Negara-negara tersebut menganggap penghancuran ini sebagai upaya sistematis untuk melumpuhkan kinerja lembaga kemanusiaan PBB di wilayah tersebut. Mereka mendesak Israel untuk segera menghentikan aksi pembongkaran dan menegaskan dukungan penuh terhadap misi UNRWA bagi pengungsi Palestina. Selain itu, komunitas internasional menyatakan kekhawatiran mendalam atas langkah Knesset yang mengesahkan undang-undang pelarangan kontak dengan UNRWA, serta menuntut agar Israel membuka kembali seluruh pintu perbatasan guna memastikan bantuan dan layanan dasar dapat menjangkau warga di Gaza dan Tepi Barat.
Aksi pembongkaran markas UNRWA di Yerusalem tersebut dilaporkan melibatkan partisipasi langsung dari Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir sejak awal Januari. Pihak UNRWA sendiri telah menegaskan bahwa kompleks bangunan mereka di Yerusalem adalah fasilitas Perserikatan Bangsa-Bangsa yang memiliki imunitas diplomatik dan seharusnya dilindungi dari segala bentuk pelanggaran atau perusakan. Namun, otoritas pendudukan Israel tetap melanjutkan pembongkaran sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk menghapus keberadaan badan PBB tersebut. Dalam pernyataan bersamanya, negara-negara donor juga menekankan pentingnya menjamin keamanan bagi organisasi non-pemerintah (NGO) agar tetap bisa beroperasi di Gaza di tengah situasi kemanusiaan yang terus memburuk akibat blokade dan serangan militer yang berkepanjangan.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Arab News



