Skip to main content

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa Amerika Serikat dan Eropa sama sekali tidak memiliki kepedulian terhadap kepentingan rakyat Iran, melainkan hanya berambisi untuk menguasai kekayaan minyak dan gas negara tersebut. Dalam pidatonya saat bertemu dengan para gubernur dari seluruh penjuru negeri pada Senin, 26 Januari 2026, Presiden Masoud Pezeshkian mengkritik keras pendekatan munafik Barat yang mengklaim membela hak asasi manusia, namun di saat yang sama mendukung kejahatan paling keji yang dilakukan entitas Zionis di Gaza serta secara terbuka menyokong para perusuh dan aksi kekerasan di dalam wilayah Iran. Beliau menyatakan bahwa kekuatan-kekuatan Barat tersebut tidak merasa khawatir atas terbunuhnya putra-putra bangsa Iran, karena fokus utama dan keserakahan mereka tertuju pada sumber daya serta kekayaan alam yang dimiliki rakyat Iran. Presiden Masoud Pezeshkian menekankan bahwa salah satu area utama yang difokuskan musuh untuk merugikan negara adalah mata pencaharian warga, sehingga beliau menginstruksikan pentingnya memenuhi tuntutan warga demi menggagalkan rencana musuh.

Di sisi lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Ismail Baghaei mengonfirmasi bahwa kekuatan Iran saat ini lebih besar dari sebelumnya, dan respons yang diberikan akan jauh lebih menentukan serta menyakitkan jika negara tersebut menjadi sasaran serangan Amerika Serikat-Zionis. Beliau mencatat bahwa Teheran sedang menghadapi perang gabungan dan terus mengupayakan segala langkah diplomatik, namun angkatan bersenjata tetap akan menanggapi setiap pelanggaran kedaulatan dengan tegas dan kuat berdasarkan pengalaman masa lalu. Kesiapan membela tanah air juga ditegaskan oleh Komandan Pasukan Darat Angkatan Darat Iran Brigadir Jenderal Ali Jahanshahi, yang menyatakan bahwa militer sepenuhnya siap menghadapi rencana musuh dan akan membalas dengan kekuatan penuh kapan pun diperlukan. Senada dengan hal tersebut, juru bicara Kementerian Pertahanan Brigadir Jenderal Reza Talaei memperingatkan bahwa setiap serangan yang diluncurkan oleh Amerika Serikat dan entitas Israel akan dibalas dengan respons Iran yang lebih keras dan parah.

Di tengah ketegangan tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan pernyataan yang kontradiktif dengan mengeklaim bahwa diplomasi tetap menjadi pilihan. Dalam sebuah wawancara dengan situs berita Axios pada Senin, 26 Januari 2026, Presiden Donald Trump mengeklaim bahwa pejabat Iran telah menghubunginya beberapa kali dan ingin mencapai kesepakatan melalui negosiasi. Sembari mengisyaratkan pengerahan kapal induk Abraham Lincoln ke wilayah Timur Tengah, beliau menyebut situasi dengan Iran saat ini tidak stabil namun yakin bahwa Teheran benar-benar menginginkan perjanjian. Meski demikian, Presiden Donald Trump menolak untuk membahas detail opsi militer yang diajukan oleh tim keamanan nasionalnya, sementara dua pejabat senior pemerintah Amerika Serikat lainnya mengonfirmasi kesiapan Washington untuk bernegosiasi jika Iran menginginkannya.

Menanggapi hiruk-pikuk media dan ancaman dari pejabat militer Amerika Serikat serta Israel, seorang pejabat militer tingkat tinggi di Markas Pusat Khatam al-Anbiya memberikan peringatan keras. Pejabat tersebut menyatakan bahwa angkatan bersenjata Republik Islam Iran tidak hanya memantau pergerakan musuh selama fase operasional, tetapi juga mengamati pembentukan ancaman keamanan nasional sejak indikator awal. Beliau menegaskan bahwa gagasan untuk melakukan apa yang disebut sebagai operasi terbatas, cepat, dan bersih terhadap Iran adalah produk dari salah perhitungan dan pemahaman yang tidak lengkap mengenai kemampuan defensif serta ofensif Republik Islam Iran. Skenario apa pun yang dirancang berdasarkan elemen kejutan atau kendali atas cakupan konflik dipastikan akan lepas dari kendali para perencananya sejak tahap awal pertempuran.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: Jerusalem Post