Pemimpin gerakan Ansar Allah di Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, menyatakan bahwa Amerika Serikat dan entitas pendudukan Israel telah gagal di Iran. Keberhasilan ini tercapai berkat kewaspadaan dan kesadaran rakyat Iran yang turun ke jalan dalam demonstrasi jutaan orang yang luar biasa.
Dalam pidato memperingati gugurnya Sayyid Hussein Badr al-Din al-Houthi, ia menegaskan bahwa pembakaran puluhan masjid di Iran serta berbagai kejahatan lainnya terhadap rakyat Iran jelas merupakan tindakan Amerika dan Israel. Ia menambahkan bahwa keduanya mendukung, menghasut, serta menjadi pencipta kejahatan geng-geng kriminal di Iran.
Sayyid Abdul-Malik al-Houthi menunjukkan bahwa Amerika memberlakukan sanksi ekonomi dan mengepung rakyat Iran, lalu mencoba mengeksploitasi krisis buatan mereka sendiri untuk memicu kekacauan. Dalam kesempatan tersebut, ia juga menegaskan dukungan penuh Republik Yaman terhadap rakyat Muslim Somalia.
Ia menekankan bahwa isu di Somalia sangat penting bagi Yaman karena mengancam keamanan kawasan, Laut Merah, dan Bab al-Mandab. Sayyid Abdul-Malik al-Houthi menyatakan tidak akan tinggal diam dan tahu cara menangani bahaya tersebut. Menurutnya, pernyataan dari musuh Israel tidak memiliki nilai apa pun.
“Kami terus memantau dan memperkuat pengawasan. Kami serius untuk menargetkan kehadiran Israel di Somaliland, baik itu pangkalan militer atau apa pun yang serupa. Setiap kehadiran Zionis akan menjadi target militer kami tanpa ragu,” jelasnya.
Sayyid Abdul-Malik al-Houthi menjelaskan bahwa musuh Israel terus mencoba mencapai tujuannya di Somalia dengan memanfaatkan lokasi geografisnya yang vital di Laut Merah, berhadapan dengan Teluk Aden dan Bab al-Mandab. Hal ini dilakukan demi menguasai jalur perairan internasional.
Ia juga menyoroti kunjungan rahasia Menteri Luar Negeri Zionis, Gideon Sa’ar, ke wilayah yang disebut “Somaliland”. Kunjungan tersebut dinilai sebagai bentuk infiltrasi karena dilakukan secara sembunyi-sembunyi melalui Ethiopia menggunakan pesawat Rumania. Ia meyakini kerahasiaan ini menunjukkan ketakutan menteri tersebut terhadap posisi Yaman.
Mengenai isu Palestina, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi menegaskan bahwa kejahatan musuh Israel di Gaza, Tepi Barat, Yerusalem, Masjid Al-Aqsa, dan Hebron tidak boleh dianggap sebagai pemandangan biasa. Ia memperingatkan agar tidak tertipu oleh istilah perdamaian atau perjanjian di tengah berlanjutnya pembunuhan dan pengepungan.
Ia berargumen bahwa pendekatan global Amerika didasarkan pada tirani dan ketidakadilan, merujuk pada peristiwa di Venezuela dan upaya terang-terangan Amerika untuk menguasai Greenland demi mineral langka dan kekayaannya. Penindasan Amerika ini menjadi pelajaran bagi bangsa-bangsa di kawasan yang menghadapi rencana serupa. Ia menegaskan bahwa seluruh peristiwa saat ini membuktikan kebenaran posisi rakyat Yaman dalam mendukung Palestina melawan agresi Israel di Gaza.
Sayyid Abdul-Malik al-Houthi mengingatkan keniscayaan konflik dengan Israel dan Amerika, baik secara langsung maupun melalui kaki tangan regional yang hubungannya dengan Washington sudah terpapar jelas. Ia memuji aktivitas persiapan seperti mobilisasi umum, kursus militer, serta pertemuan suku dan budaya yang berlandaskan pada komitmen terhadap Al-Quran.
Ia juga memperingatkan bahwa berpihak pada Amerika tidak memberikan perlindungan bagi rezim mana pun. Sebaliknya, Washington akan dengan mudah meninggalkan sekutunya demi kepentingan pribadi, seperti yang terlihat dalam kasus Greenland yang bahkan menyasar sekutu Eropa mereka. Ia menekankan bahwa siapa pun yang berasosiasi dengan Amerika untuk melawan bangsanya sendiri akan berakhir dengan kerugian dan kehancuran.
Sayyid Abdul-Malik al-Houthi menjelaskan bahwa membiarkan penetrasi militer, ekonomi, atau intelijen Amerika dan Israel berarti kehilangan kemampuan untuk menghadapi kendali total. Sebaliknya, ia menekankan keteguhan melalui proyek Al-Quran sebagai pilihan terbaik untuk mencapai kebebasan dan martabat manusia. Ia mengakhiri pidatonya dengan menekankan pentingnya peringatan Isra’ Mi’raj dan pelajaran yang terkandung di dalamnya, khususnya mengenai Masjid Al-Aqsa yang menjadi titik sentral konflik dengan musuh Israel.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: Shafaq News



