Skip to main content

Perwakilan Rusia dan Tiongkok di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengecam segala bentuk campur tangan asing terhadap urusan internal Iran dan memperingatkan bahwa tindakan tersebut berisiko memperluas konflik ke segala arah.

Dalam pidatonya di sesi Dewan Keamanan PBB mengenai Iran pada Kamis malam, 15 Januari 2026, wakil Rusia Vasily Nebenzya menyatakan bahwa Amerika Serikat sedang menciptakan obsesi berlebih terhadap Iran. Ia menuding kekuatan asing mencoba mengeksploitasi situasi di Iran untuk menggulingkan pemerintah. Vasily Nebenzya menegaskan bahwa Rusia mengutuk campur tangan tersebut dan memperingatkan dampak sistemik yang bisa timbul.

Vasily Nebenzya juga menyebut bahwa penargetan institusi negara di Iran merupakan bentuk “revolusi warna” di mana anak-anak tewas dengan dukungan kekuatan asing. Ia menyoroti bahwa Presiden Amerika Serikat telah mendesak pendudukan institusi-institusi di Iran, yang menurutnya merupakan pelanggaran nyata terhadap Piagam PBB. Ia mengonfirmasi bahwa Washington telah mengirimkan ancaman sejak bulan lalu untuk merongrong pemerintah Iran yang tidak mau tunduk. Selain itu, ia menambahkan bahwa “protes” di Iran telah mereda dan situasi kembali normal.

Senada dengan Rusia, Wakil Tetap Tiongkok untuk PBB menyatakan penolakannya terhadap penggunaan kekuatan dan “hukum rimba” dalam hubungan internasional. Ia menegaskan bahwa kedaulatan Iran sepenuhnya berada di tangan rakyat Iran. Tiongkok menyatakan berdiri bersama kemerdekaan dan kedaulatan Iran, serta memperingatkan bahwa petualangan militer Amerika Serikat dapat menjerumuskan kawasan ke dalam “neraka”. Perwakilan Tiongkok mendesak agar Amerika Serikat mendengarkan suara rakyat dan berhenti “menyiramkan bensin ke dalam api”.

Wakil Iran di PBB, Gholam Hossein Dehghani, menyatakan bahwa negaranya tidak mencari eskalasi atau konfrontasi, namun akan menanggapi setiap agresi secara tegas. Ia menjelaskan dalam sidang Dewan Keamanan bahwa protes damai sengaja dieksploitasi oleh kelompok bersenjata terorganisir dan diubah menjadi kerusuhan yang sarat kekerasan. Gholam Hossein Dehghani menyatakan bahwa rakyat dan pemerintah Iran menghadapi aksi terorisme dan kekerasan berlebih yang serupa dengan tindakan organisasi ISIS.

Ia menekankan bahwa Amerika Serikat dan sekutunya, terutama Israel, tidak bisa menghindar dari tanggung jawab atas tumpahnya darah orang-orang tidak bersalah di negaranya. Ia juga menuding Amerika Serikat mengadopsi strategi memalsukan kerugian manusia, menyebarkan angka yang dilebih-lebihkan, serta menciptakan dalih untuk intervensi asing. Gholam Hossein Dehghani memperingatkan bahwa agresi apa pun, baik langsung maupun tidak langsung, akan ditanggapi secara proporsional berdasarkan Pasal 51 Piagam PBB. Ia menegaskan ini bukan sekadar ancaman, melainkan fakta hukum.

Gholam Hossein Dehghani membantah semua tuduhan bermotif politik terhadap pemerintahnya dan menyatakan bahwa narasi pembunuhan demonstran yang dibuat-buat Amerika Serikat tidak mencerminkan fakta. Ia menegaskan bahwa hasutan terhadap kelompok teroris di Iran serta kampanye intimidasi oleh Israel dan Amerika Serikat telah gagal mencapai tujuannya.

Hal ini diperkuat dengan fakta bahwa rakyat Iran telah bersatu mendukung pemerintah mereka. Pesan tersebut disampaikan melalui jutaan orang yang turun ke jalan, baik untuk mendukung pemerintah maupun memberikan penghormatan bagi para martir korban kelompok sabotase dan terorisme. Pemandangan jutaan orang ini menunjukkan secara jelas kepada dunia bahwa pemerintah Iran memiliki basis massa yang sangat kuat di dalam negeri, sekaligus mengirim pesan kekecewaan besar bagi Washington dan Tel Aviv yang telah mengerahkan kelompok-kelompok tersebut.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: Al Jazeera