Skip to main content

Kementerian Luar Negeri Iran melayangkan kecaman keras terhadap keputusan Amerika Serikat yang menaikkan tarif perdagangan bagi mitra ekonomi Iran, menyebut langkah tersebut sebagai bentuk keputusasaan dan permusuhan nyata terhadap rakyat Iran. Teheran menegaskan bahwa kebijakan tarif Donald Trump ini tidak hanya bertentangan dengan prinsip perdagangan internasional bebas, tetapi juga merupakan pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Pemerintah Iran memperingatkan konsekuensi serius bagi sistem internasional jika organisasi dunia gagal melindungi aturan hukum dari intimidasi sepihak Washington, sembari menegaskan bahwa rakyat Iran akan terus melawan tekanan brutal tersebut demi melanjutkan jalur pembangunan nasional.

Dukungan internasional terhadap stabilitas Iran datang dari Tiongkok, di mana Kementerian Luar Negeri Tiongkok pada Rabu ini secara resmi menyatakan penolakannya terhadap segala bentuk intervensi urusan dalam negeri serta penggunaan ancaman militer dalam hubungan internasional. Pernyataan Beijing ini muncul sebagai respons langsung atas hasutan Donald Trump yang mendorong perusuh untuk merebut institusi negara Iran dengan janji bahwa “bantuan segera datang”. Terkait ancaman tarif 25% yang dilontarkan Trump pada Senin lalu, Tiongkok menegaskan posisi mereka bahwa tidak ada pemenang dalam perang tarif dan Beijing akan bertindak tegas untuk membela hak serta kepentingan sah mereka.

Di jalur diplomasi regional, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melakukan komunikasi intensif dengan Menlu Turki Hakan Fidan dan Menlu UEA Sheikh Abdullah bin Zayed Al Nahyan. Kepada mitra regionalnya, Araghchi membeberkan detail bagaimana protes damai warga telah dibajak oleh elemen kekerasan yang terkait dengan kekuatan asing dan dukungan Israel, yang menyebabkan gugurnya banyak warga sipil dan aparat. Menlu UEA menekankan pentingnya koordinasi kolektif untuk menjaga stabilitas kawasan, sementara Araghchi memastikan bahwa kewaspadaan rakyat dan kerja keras pasukan keamanan telah berhasil mengembalikan ketenangan dan mematahkan provokasi pejabat Amerika yang dianggap sebagai intervensi terang-terangan.

Pernyataan paling krusial datang dari Panglima Angkatan Bersenjata Iran, Abdolrahim Mousavi, yang mengungkapkan pada Rabu ini bahwa musuh telah menjalankan rencana presisi dengan mengerahkan elemen teroris terlatih melalui jalur darat. Mousavi meyakini bahwa setelah gagal dalam “perang 12 hari”, musuh kini beralih ke strategi serangan lapangan dan sabotase luas yang belum pernah dihadapi Iran sebelumnya. Ia menekankan bahwa operasi ini bukan sekadar kerusuhan biasa, melainkan upaya kudeta yang terencana di mana para elemen teroris mengadopsi kekerasan ekstrem sebagai opsi utama, termasuk menembak langsung ke arah warga sipil untuk menciptakan kekacauan.

Sejak hari-hari terakhir tahun lalu hingga saat ini, Iran telah menyaksikan gelombang kekerasan dan sabotase yang mengakibatkan syahidnya ratusan anggota pasukan keamanan, Basij, dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), terutama akibat pergerakan kelompok separatis di wilayah barat. Perusakan terhadap properti publik, pribadi, hingga tempat suci agama menjadi bukti nyata dari skala destruktif operasi ini. Meskipun demikian, otoritas Teheran menegaskan bahwa situasi internal kini berada di bawah kendali penuh dan setiap tindakan agresi asing lebih lanjut akan dihadapi dengan keteguhan nasional yang lebih kuat.

Sumber berita: Al-Mayadeen

Sumber gambar: Press TV