Sejak fajar Minggu, 14 Desember 2025, pasukan pendudukan Israel melancarkan gelombang luas penggerebekan dan penangkapan di berbagai wilayah Tepi Barat, dengan menyerbu rumah-rumah warga Palestina serta melakukan pemukulan dan intimidasi terhadap penduduk.
Di Hebron, pasukan Israel menangkap sejumlah mantan tahanan dan mahasiswa universitas. Mereka juga mengubah rumah tahanan Palestina Mazen al-Natsha menjadi pusat interogasi lapangan, tempat para warga ditahan dan diinterogasi sebelum sebagian dari mereka dilepaskan. Selain itu, tiga bersaudara dari kota Halhul ditahan setelah rumah mereka digerebek dan dirusak isinya, sebelum akhirnya dibebaskan beberapa jam kemudian.
Di Nablus, pasukan pendudukan menangkap seorang pemuda bernama Muhammad Ramadan setelah menggerebek rumahnya di desa Tell, sebelah barat daya kota. Penangkapan juga terjadi di kota Al-Zawiya, sebelah barat Salfit, di mana sejumlah pemuda ditahan.
Sementara itu di Tulkarm, pasukan Israel menangkap mantan tahanan Saad Qassem, selain sejumlah pemuda lainnya, dalam penggerebekan di kota Al-Yamoun, sebelah barat Jenin.
Pasukan pendudukan juga menyerbu desa Al-Mughayyir di timur laut Ramallah, menutup akses masuk ke Atara dan Rawabi, serta mendirikan pos pemeriksaan militer di dekat Nabi Saleh, utara Ramallah. Penggerebekan terus berlanjut di desa Salem di timur Nablus dan kawasan Umm al-Sharayet di Al-Bireh, disertai penggeledahan dan penangkapan.
Bentrok pecah di desa Aboud, utara Ramallah, ketika warga Palestina berhadapan dengan pasukan Israel yang tengah melakukan penggerebekan.
Di wilayah Khan al-Ahmar, tenggara Yerusalem yang diduduki, pasukan Israel menangkap dua pemuda saat menggerebek komunitas Al-Hathroura, bersamaan dengan pengetatan langkah militer di kawasan tersebut. Pasukan pendudukan juga menyerbu kota Al-Issawiya di Yerusalem.
Dalam insiden terpisah, seorang pria Palestina berusia 28 tahun ditembak di bagian kaki dengan peluru tajam oleh pasukan Israel di pos pemeriksaan militer Qalandiya, utara Yerusalem. Dua pemuda lainnya juga mengalami luka saat mencoba melintasi tembok pemisah di kota Al-Ram, utara Yerusalem.
Pada Sabtu malam, 13 Desember 2025, seorang remaja Palestina berusia 16 tahun, Muhammad Iyad Abahra, gugur ditembak pasukan Israel di kota Silat al-Harithiya, sebelah barat Jenin. Dengan gugurnya Abahra, jumlah warga Palestina yang tewas di wilayah Jenin sejak dimulainya ofensif Israel pada Januari lalu meningkat menjadi 60 orang.
Di saat yang sama, serangan kelompok pemukim Israel terus meningkat di Tepi Barat. Para pemukim membakar properti milik warga Palestina di kawasan Al-Masayat, utara kota Kafr Malik, timur Ramallah, serta menyerang komunitas Ain al-Duyuk di dekat Jericho, menyebabkan sejumlah perempuan dan anak-anak mengalami luka-luka.
Serangan juga terus dilakukan terhadap para penggembala Palestina di Khirbet Janba, wilayah Masafer Yatta di selatan Hebron, dengan cara menghalangi mereka mengakses padang rumput.
Ekspansi permukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki mencapai tingkat tertinggi sepanjang sejarah tahun ini sejak Perserikatan Bangsa-Bangsa mulai memantau perkembangan tersebut pada 2017.
Dalam laporan terbarunya kepada Dewan Keamanan PBB, Sekretaris Jenderal António Guterres menyatakan bahwa sepanjang 2025, perluasan permukiman Israel mencapai level tertinggi, dengan tender yang diajukan, disetujui, atau diberi lampu hijau untuk dibuka bagi sekitar 47.390 unit permukiman, dibandingkan sekitar 26.170 unit pada 2024.
Laporan itu mencatat bahwa angka tersebut melonjak tajam dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, di mana rata-rata pembangunan permukiman berkisar 12.800 unit per tahun antara 2017 hingga 2022.
Guterres mengecam keras kelanjutan perluasan permukiman Israel, yang menurutnya terus memicu ketegangan, merampas akses warga Palestina terhadap tanah mereka, dan mengancam kemungkinan berdirinya negara Palestina yang merdeka, berkesinambungan, dan berdaulat penuh.
Ia memperingatkan bahwa langkah-langkah tersebut semakin mengokohkan pendudukan Israel yang ilegal, melanggar hukum internasional serta hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri. Guterres kembali menyerukan penghentian segera seluruh aktivitas permukiman.
Ia juga menegaskan bahwa kebijakan ini berkontribusi langsung pada eskalasi kekerasan di Tepi Barat, termasuk operasi militer Israel yang menewaskan banyak warga sipil—termasuk perempuan dan anak-anak—serta menyebabkan pengungsian dan penghancuran rumah serta infrastruktur.
Dalam konteks terkait, Guterres mengutuk peningkatan kekerasan pemukim yang disebutnya “mengkhawatirkan”, seraya mencatat bahwa sejumlah serangan terjadi di hadapan atau dengan dukungan pasukan keamanan Israel.
Sehari sebelumnya, Hamas mengecam pengumuman Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich mengenai persetujuan legalisasi 19 permukiman baru di Tepi Barat. Hamas menilai langkah tersebut sebagai eskalasi berbahaya dalam proyek aneksasi dan Yahudisasi, serta mencerminkan watak ekstrem pemerintahan Israel yang memperlakukan tanah Palestina sebagai “jarahan kolonial”.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Anadolu Agency


