Skip to main content

Kementerian Kesehatan di Jalur Gaza mengumumkan dalam laporan statistik hariannya pada Jumat, 21 November 2025, bahwa rumah sakit di Gaza telah menerima 33 syuhada dalam 24 jam terakhir, termasuk 12 anak, 8 perempuan, serta satu jenazah yang ditemukan kembali, selain 88 luka baru akibat agresi Israel yang terus berlangsung terhadap wilayah tersebut.

Kementerian tersebut menegaskan bahwa masih ada korban yang berada di bawah reruntuhan dan di jalanan, sementara tim ambulans dan pertahanan sipil tidak dapat menjangkau mereka akibat serangan yang masih berlanjut serta minimnya peralatan penyelamatan yang diperlukan — yang dilarang masuk oleh pihak pendudukan dengan dalih “barang penggunaan ganda”.

Jumlah korban sejak pengumuman gencatan senjata pada Sabtu, 11 Oktober 2025, telah meningkat menjadi 312 syahid dan 760 orang luka, selain 572 kasus pemulihan.

Kementerian Kesehatan juga menegaskan bahwa total korban agresi Israel sejak Sabtu, 7 Oktober 2023, telah mencapai 69.546 syahid dan 170.833 luka-luka.

Dua warga Palestina juga dilaporkan tewas pada Jumat dini hari, 21 November 2025, oleh pasukan pendudukan Israel di kota Kafr Aqab, sebelah utara Yerusalem yang diduduki, menurut pernyataan Kementerian Kesehatan Palestina.

Kementerian tersebut menyebutkan nama dua martir itu: Amr Khaled Ahmed Al-Marbou’ (18 tahun) dan Sami Ibrahim Sami Al-Mashayekh (16 tahun).

Warga Palestina kemudian mengantarkan jenazah keduanya dari Kompleks Medis Palestina di Ramallah, dengan lantunan takbir dan seruan: “Tiada Tuhan selain Allah… dan syuhada adalah kekasih Allah.”

Sumber media Palestina melaporkan bahwa pasukan pendudukan menyerbu kota tersebut dengan jumlah besar, menempatkan sniper di atap bangunan, lalu menembaki warga yang mencoba menahan serangan.

Situasi tegang berlangsung selama beberapa jam bersamaan dengan penyebaran pasukan Israel di dalam dan sekitar kota. Laporan juga menyebutkan bahwa pemukim Israel membakar sebuah lahan pertanian di desa Abu Falah, timur laut Ramallah di Tepi Barat.

Human Rights Watch menegaskan bahwa pengusiran paksa yang dilakukan tentara Israel terhadap penduduk kamp Jenin, Tulkarm, dan Nur Shams di Tepi Barat utara pada Januari dan Februari lalu merupakan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Dalam pernyataan yang dirilis Kamis, 20 November 2025, organisasi tersebut menuntut penyelidikan terhadap pejabat tinggi Israel — termasuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Yisrael Katz — terkait operasi militer di kamp-kamp tersebut, dan meminta agar mereka dituntut atas dugaan tindak kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

HRW juga menyerukan pemerintahan dunia untuk memberlakukan sanksi yang ditargetkan serta langkah mendesak lainnya guna menekan Israel menghentikan kebijakan represifnya.

Menurut data laporan tersebut, 32.000 warga Palestina tidak diizinkan kembali ke rumah mereka, yang dihancurkan secara sengaja oleh pasukan Israel.

Dalam konteks ini, HRW menyebutkan bahwa analisis citra satelit memperlihatkan 850 rumah dan bangunan telah hancur atau mengalami kerusakan berat di kamp-kamp tersebut, enam bulan setelah agresi.

Sementara itu, tinjauan awal citra satelit oleh Pusat Satelit PBB pada Oktober lalu memperkirakan sedikitnya 1.460 bangunan mengalami kerusakan di tiga kamp tersebut.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: Al Jazeera