Skip to main content

Dalam rangka memperingati satu tahun dimulainya perang 2024 antara Lebanon dan entitas Zionis, Media Militer Perlawanan Islam mulai merilis serial dokumenter berseri yang menyoroti berbagai aspek Perang Uli al-Baas — sebagaimana dinamai oleh Sekretaris Jenderal, Syekh Naim Qassem.

Media Militer Hizbullah menegaskan bahwa serial tersebut bukan sekadar penyajian kronologi peristiwa, melainkan sebuah dokumen sejarah yang merekam kepahlawanan para pejuang yang dengan darah dan keteguhan mereka menulis bab-bab cemerlang dalam sejarah perlawanan.

Uli al-Baas adalah kisah tentang mereka yang tak pernah mengenal kekalahan — mereka yang dengan pengorbanan darahnya menempa memori kemuliaan dan keabadian yang akan senantiasa hidup di hati rakyatnya.

Pada hari itu, 1 Oktober 2024, tentara pendudukan Israel mengumumkan dimulainya operasi darat di wilayah selatan Lebanon dengan sandi “Panah-Panah Utara” (Arrows of the North). Mereka mengerahkan lima divisi militer, dengan total lebih dari 70.000 perwira dan prajurit, serta ratusan tank dan kendaraan lapis baja.

Namun pengerahan besar-besaran ini tidak menggoyahkan semangat para pejuang Perlawanan Islam. Ratusan mujahid telah menempati pos-pos di sepanjang garis perbatasan, siap menghadapi pertempuran langsung. Tujuan mereka jelas: menggagalkan rencana musuh dan menegaskan bahwa Lebanon akan menjadi kuburan bagi para penjajah.

Pada hari itu, Perlawanan Islam melancarkan 16 operasi militer yang menargetkan sejumlah permukiman di utara Palestina yang diduduki, disertai rentetan roket intensif. Serangan juga diarahkan ke situs, barak, dan tempat konsentrasi pasukan musuh di sepanjang perbatasan Lebanon–Palestina, menggunakan roket dan tembakan artileri berat.

Sebagai bagian dari seri operasi “Khaibar”, roket Perlawanan menargetkan pangkalan Galilot yang berada di bawah Divisi Intelijen Militer, markas besar Mossad, serta pangkalan udara Sde Dov di pinggiran utara Tel Aviv.

Media Israel melaporkan jatuhnya roket di wilayah timur Tel Aviv, menyebabkan sejumlah korban luka. Komando Front Dalam Negeri Zionis memberlakukan pembatasan aktivitas publik di wilayah tengah Palestina yang diduduki dan menghentikan layanan kereta di kawasan metropolitan Tel Aviv. Laporan Ibrani juga menyebutkan jatuhnya roket di Haifa dan sekitar permukiman “Eliania” di sebelah barat Danau Tiberias, setelah tembakan intensif dari Perlawanan yang menembus jauh ke dalam wilayah musuh.

Pada hari yang sama, para mujahid Perlawanan Islam menyampaikan pesan kesetiaan kepada Pemimpin Syahid, Sayyid Hasan Nasrallah, memperbarui janji untuk tetap berjalan di atas jalan jihad yang telah beliau titipkan. Mereka berikrar akan terus berjuang hingga tercapainya kemenangan dan pembebasan penuh, seraya menegaskan kesetiaan terhadap aspirasi rakyatnya.

Departemen Hubungan Masyarakat Pasukan Pengawal Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan bahwa, berdasarkan keputusan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran dan sebagai bentuk dukungan terhadap tentara Lebanon, mereka telah menargetkan sasaran-sasaran militer penting di wilayah Palestina yang diduduki dengan puluhan roket, sebagai balasan atas pembunuhan terhadap syuhada Ismail Haniyeh, Sayyid Hasan Nasrallah, dan Abbas Nilforoushan.

Sirene serangan udara terdengar sebanyak 45 kali di berbagai wilayah Palestina yang diduduki, menandai hari di mana medan pertempuran kembali bergemuruh dari selatan Lebanon hingga jantung Tel Aviv.

Sumber berita: Al-Manar

Sumber gambar: Sky News