Skip to main content

Komandan Pasukan Quds dalam Korps Garda Revolusi Islam Iran, Brigadir Jenderal Ismail Qaani, menegaskan pada hari Kamis bahwa kelompok Zionis harus segera angkat kaki dari seluruh wilayah Lebanon karena tanah tersebut merupakan medan keteguhan dan perlawanan yang tidak akan pernah takluk. Ia memberikan peringatan keras kepada pihak pendudukan dengan menyatakan bahwa jika mereka tidak menarik diri dari Lebanon pada hari ini atas kemauan sendiri, maka pada keesokan harinya mereka akan dipaksa untuk melarikan diri dalam keadaan malu dan menderita kekalahan yang sangat menghinakan.

Ismail Qaani melanjutkan pernyataannya dengan mengingatkan pihak musuh untuk tidak melupakan peristiwa pembebasan bersejarah pada tahun 2000 serta tekad kuat dari mendiang Sayyid Hassan Nasrallah di Bint Jbeil. Ia merujuk pada pidato ikrar masa lalu yang menyatakan bahwa sebagaimana kemenangan selalu dijanjikan sebelumnya, kemenangan tersebut akan kembali ditepati. Ismail Qaani menambahkan bahwa janji bersejarah tersebut masih hidup dan pemandangan kekalahan pasukan pendudukan dipastikan akan terulang kembali dalam waktu dekat.

Peringatan militer ini mengemuka beberapa hari setelah Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, mengumumkan bahwa sejumlah kesepahaman dan mekanisme bersama telah berhasil dicapai dengan pihak Washington dalam putaran negosiasi di Swiss, khususnya mengenai jaminan mutlak atas kedaulatan serta keutuhan wilayah Lebanon. Ia mengonfirmasi adanya keputusan untuk mendirikan sebuah pusat koordinasi yang bertujuan memfasilitasi kepulangan warga negara Lebanon dengan aman ke rumah-rumah mereka, sekaligus mengawasi proses penarikan mundur seluruh pasukan entitas pendudukan dari negara tersebut. Lebih lanjut, disepakati pula pembentukan pusat koordinasi khusus untuk Lebanon yang akan bertugas menangani dan menginvestigasi setiap perselisihan terkait pelanggaran kesepakatan gencatan senjata di lapangan.

Sejalan dengan perkembangan diplomasi tersebut, Juru Bicara Delegasi Perunding Iran, Ismail Baghaei, memaparkan bahwa sebuah mekanisme pengawasan lapangan akan segera dibentuk untuk memantau pelaksanaan klausul pertama dari nota kesepahaman di Lebanon. Mekanisme operasional baru ini dikenal dengan nama Sel Penyelesaian Sengketa, yang secara spesifik dirancang dengan tujuan utama untuk memastikan bahwa koridor gencatan senjata di Lebanon dapat berjalan secara persisten dan berkelanjutan tanpa adanya eskalasi militer lanjutan dari pihak mana pun.

Seluruh perkembangan strategis ini terjadi pada saat otoritas di Islamabad dan Doha secara aktif memimpin upaya diplomasi intensif guna meredam konflik regional secara menyeluruh. Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar, Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, turut menegaskan bahwa tujuan utama dari nota kesepahaman terbaru yang disepakati antara Washington dan Teheran adalah untuk segera menghentikan peperangan mematikan yang sedang berlangsung, sekaligus membentuk sebuah kerangka kerja kelembagaan yang terukur demi mengawal jalannya proses negosiasi perdamaian lanjutan antara Amerika Serikat dan Iran.

Sumber berita: Al-Mayadeen

Sumber gambar: Pars Today