Kementerian Kesehatan Israel mencatat sembilan kasus cedera baru dalam waktu 24 jam terakhir, yang membawa total korban cedera sejak awal perang melawan Iran pada 28 Februari 2026 hingga Minggu, 17 Mei 2026, mencapai 8.752 orang. Data terbaru ini memperlihatkan besarnya dampak kerugian personel yang harus ditanggung oleh pasukan pendudukan di tengah berlanjutnya gesekan bersenjata di wilayah perbatasan.
Dalam pembaruan data tersebut, pihak kementerian mengonfirmasi bahwa total korban cedera yang dilarikan ke rumah sakit Israel dari Lebanon pada periode pasca-gencatan senjata dengan Iran—sejak 8 April lalu—telah mencapai 851 orang. Sementara itu, jumlah korban cedera dari front utara yang tercatat sejak pengumuman gencatan senjata dengan Lebanon pada 17 April lalu telah menyentuh angka 433 orang. Lonjakan angka ini menunjukkan bahwa situasi di lapangan tetap membara meskipun koridor diplomasi telah diupayakan.
Peningkatan jumlah korban di pihak pasukan pendudukan terjadi seiring dengan keputusan Hizbullah untuk terus melancarkan operasi militer secara intensif. Langkah ini diambil sebagai respons langsung atas tindakan pasukan Israel yang berulang kali melanggar kesepakatan gencatan senjata dan melanjutkan agresi terhadap wilayah-wilayah Lebanon, khususnya di sektor selatan.
Pasukan Hizbullah secara sistematis membidik titik kumpul tentara, konvoi kendaraan militer, serta menyergap pasukan infanteri musuh. Tidak hanya di area perbatasan, serangan juga diarahkan ke situs militer dan pemukiman di wilayah utara Palestina yang diduduki. Media dan pejabat Israel sendiri mulai mengakui secara terbuka bahwa mereka belum menemukan solusi teknis yang efektif untuk menangkal serangan drone bunuh diri Hizbullah yang terus menghantam target dengan akurat dan menimbulkan kerugian besar di pihak mereka.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Anadolu Agency


