Kantor berita Iran, Fars, melaporkan pada Rabu, 13 Mei 2026, bahwa Teheran telah menetapkan lima prasyarat utama sebagai jaminan pembangunan kepercayaan minimal sebelum memulai negosiasi babak kedua dengan Amerika Serikat. Berdasarkan keterangan sumber terpercaya, Iran menuntut penghentian perang di seluruh front—terutama di Lebanon—pencabutan sanksi, pelepasan aset yang dibekukan, kompensasi atas kerugian akibat perang, serta pengakuan kedaulatan Iran atas Selat Hormuz. Iran juga telah mengomunikasikan kepada Pakistan bahwa berlanjutnya blokade laut setelah kesepakatan gencatan senjata semakin memperburuk krisis kepercayaan terhadap Washington.
Juru Bicara Kementerian Pertahanan Iran, Brigadir Jenderal Reza Talaei, mempertegas posisi tersebut dengan memperingatkan bahwa setiap ancaman atau agresi akan dijawab dengan respons segera yang mematikan. Ia menegaskan bahwa jika Amerika Serikat dan Israel tidak memenuhi hak-hak sah rakyat Iran melalui jalur diplomatik, maka mereka harus siap menghadapi kekalahan berulang di medan militer. Teheran memandang pemenuhan kelima syarat tersebut sebagai satu-satunya cara untuk membuktikan komitmen praktis Amerika Serikat sebelum dialog baru dapat dimulai.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan reaksi keras terhadap tanggapan Iran tersebut. Trump menyebut proposal gencatan senjata yang diajukan Iran “sangat lemah” dan bahkan menjuluki dokumen respons tersebut sebagai “sampah.” Meski ia menyatakan bahwa solusi diplomatik masih sangat mungkin terjadi, Trump menuduh Iran terus-menerus mengubah posisi tawar mereka selama putaran negosiasi. Ia kembali menegaskan sikap fundamental Washington bahwa Amerika Serikat tidak akan pernah membiarkan Iran memiliki senjata nuklir, di tengah ketegangan yang masih menyelimuti jalur pelayaran strategis tersebut.
Sumber berita: Al-Mayadeen
Sumber gambar: The New York Times

