Skip to main content

Hizbullah melancarkan rentetan operasi militer besar-besaran terhadap pasukan pendudukan Israel di wilayah selatan pada Senin, 11 Mei 2026. Operasi ini merupakan respons atas pelanggaran gencatan senjata yang terus dilakukan Israel serta serangan yang menargetkan warga sipil. Dalam salah satu serangan paling signifikan, pejuang perlawanan berhasil menghantam tank “Merkava” di kota Rashaf menggunakan drone bunuh diri, serta menggempur kumpulan tentara dan kendaraan militer di sekitarnya dengan serangan roket.

Keunggulan teknologi drone Hizbullah juga terlihat di berbagai titik tempur lainnya. Di kota Tayr Harfa, serangan drone menghancurkan kendaraan “Hummer” dan tangki bahan bakar milik pasukan pendudukan hingga memicu kobaran api besar. Sementara itu, di wilayah Naqoura dan jalur Al-Bayyada, perlawanan secara sistematis melumpuhkan alat berat Israel, termasuk buldoser “D9” dan kendaraan teknik, menggunakan kawanan drone. Media militer Hizbullah bahkan merilis cuplikan video yang mendokumentasikan penghancuran tank milik komandan kompi lapis baja Israel di Al-Bayyada sebagai bukti presisi serangan mereka.

Pertempuran sengit juga dilaporkan terjadi di kota Taybeh, di mana pejuang perlawanan melakukan serangan bergelombang terhadap pasukan Israel yang berlindung di sebuah rumah. Setelah serangan drone pertama dan kedua mengenai sasaran, Hizbullah kembali melancarkan serangan ketiga menggunakan helikopter nirawak saat pasukan bantuan Israel mencoba mengevakuasi korban luka di bawah perlindungan asap tebal. Selain serangan darat, unit pertahanan udara perlawanan juga berhasil menembak jatuh drone pengintai Israel di wilayah Tyre menggunakan rudal permukaan-ke-udara.

Efektivitas penggunaan drone bermuatan peledak oleh Hizbullah ini diakui telah mengejutkan institusi keamanan Israel. Situs berita Israel, Walla, melaporkan bahwa meskipun militer Israel menyadari adanya ancaman tersebut, mereka tetap terkejut oleh tingkat akurasi yang ditunjukkan di lapangan. Pihak militer Israel secara terbuka mengakui ketidakmampuan mereka sejauh ini untuk mencegat kawanan drone tersebut, yang kini menjadi tantangan taktis paling serius bagi pasukan pendudukan di Lebanon Selatan.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: Anadolu Agency