Skip to main content

Asisten Presiden Rusia, Yuri Ushakov, mengumumkan pada Rabu, 29 April 2026, bahwa Presiden Vladimir Putin telah melakukan pembicaraan telepon dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk membahas situasi global, khususnya eskalasi yang melibatkan Iran. Dalam dialog tersebut, Presiden Putin secara khusus memperingatkan dampak buruk yang dapat timbul jika konfrontasi bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran terus berlanjut. Beliau menekankan bahaya besar bagi stabilitas regional jika Washington dan Israel kembali memilih opsi militer sebagai jalan keluar di kawasan Timur Tengah.

Sebagai langkah konkret untuk meredakan ketegangan, Presiden Putin mengajukan serangkaian proposal yang bertujuan menyelesaikan sengketa program nuklir Iran melalui jalur politik dan diplomasi. Beliau menekankan bahwa eskalasi militer lebih lanjut hanya akan memberikan dampak kerusakan permanen pada stabilitas kawasan. Dalam pembicaraan tersebut, Presiden Trump juga memberikan penilaian mengenai fase perang yang baru saja dilalui terhadap Iran, sekaligus bertukar pandangan mengenai langkah-langkah yang akan diambil pada fase berikutnya.

Presiden Trump mendeskripsikan panggilan telepon tersebut sebagai diskusi yang “sangat baik” dan mencakup berbagai isu strategis, termasuk konflik di Ukraina yang menjadi porsi utama pembicaraan. Terkait isu nuklir Iran, Presiden Trump mengungkapkan bahwa Presiden Putin menyatakan kesediaannya untuk terlibat dalam proses pengayaan nuklir dengan syarat tertentu untuk memastikan penyelesaiannya. Menanggapi hal tersebut, Presiden Trump menegaskan kembali posisi Amerika Serikat yang tetap memprioritaskan penghentian perang di Ukraina, sembari memberikan peringatan tegas bahwa pihaknya tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir.

Dialog tingkat tinggi ini menunjukkan adanya upaya komunikasi terbuka antara Moskow dan Washington di tengah ketegangan geopolitik yang memuncak. Meskipun kedua pemimpin memiliki prioritas yang berbeda, tawaran mediasi dari Rusia terkait program nuklir Iran menjadi poin penting dalam dinamika diplomasi saat ini. Langkah ini diharapkan dapat menjadi pembuka jalan bagi solusi non-militer guna mencegah perluasan konflik di Timur Tengah yang melibatkan kekuatan-kekuatan besar dunia.

Sumber berita: Al-Mayadeen

Sumber gambar: The Moscow Times