Skip to main content

Radio tentara pendudukan Israel mengumumkan bahwa pasukannya telah mulai mengambil alih kendali atas kapal-kapal Freedom Flotilla yang sedang berlayar menuju Jalur Gaza pada Kamis, 30 April 2026. Operasi pencegatan ini dilakukan di perairan internasional dekat Pulau Kreta, Yunani, ratusan kilometer jauhnya dari pesisir Palestina yang diduduki. Pihak otoritas Israel beralasan bahwa keputusan untuk menyerbu armada tersebut di lokasi yang jauh diambil karena besarnya skala armada yang terdiri dari sekitar 100 kapal dan membawa 1.000 aktivis kemanusiaan.

Ayoub Habrawi, anggota komite pengarah Global Resilience Flotilla, mengonfirmasi kepada Al-Mayadeen bahwa angkatan laut Israel telah mencegat dan menyerbu sejumlah kapal dalam armada tersebut. Beliau melaporkan bahwa pasukan pendudukan melakukan penangkapan terhadap sejumlah aktivis dan memutus kontak dengan peserta lainnya segera setelah mereka menaiki kapal. Sebelum penyerbuan terjadi, armada tersebut sempat mengeluarkan panggilan darurat menyusul serangan sabotase sinyal dan gangguan komunikasi yang disengaja, dibarengi dengan kepungan kapal perang serta drone militer di sekeliling posisi mereka.

Sumber militer dari situs Walla menyebutkan bahwa operasi ini merupakan misi angkatan laut yang paling jauh dan kompleks sejak awal perang, di mana beberapa kapal akan ditarik paksa menuju pelabuhan Ashdod. Militer Israel menyatakan bahwa tindakan ini adalah implementasi dari blokade laut terhadap Gaza berdasarkan arahan kepemimpinan politik. Di sisi lain, para aktivis menegaskan bahwa misi sipil internasional yang diluncurkan dari Italia ini bertujuan murni untuk menembus pengepungan dan mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Gaza yang tengah menderita krisis kesehatan dan infrastruktur yang parah.

Global Resilience Flotilla merupakan inisiatif sipil yang diikuti oleh organisasi internasional dan relawan dari berbagai negara, di mana perjalanan “Misi Musim Semi 2026” ini dimulai dari Barcelona dan Sisilia sebelum akhirnya dicegat secara paksa. Penyerbuan ini terjadi di tengah kondisi penduduk Gaza yang sangat membutuhkan pasokan medis dan bahan bakar akibat pembatasan ketat yang diberlakukan sejak pecahnya perang pada Oktober 2023. Langkah militer Israel di perairan Yunani ini kini memicu kekhawatiran internasional atas keselamatan para aktivis kemanusiaan yang berada di bawah penahanan pihak pendudukan.

Sumber berita: Al-Mayadeen

Sumber gambar: Jerusalem Post