Komandan Pasukan Quds IRGC, Brigadir Jenderal Ismail Qaani, menegaskan pada Minggu, 26 April 2026, bahwa ketangguhan Hizbullah telah membuktikan bahwa klaim entitas Zionis mengenai penghancuran kemampuan perlawanan hanyalah kebohongan belaka. Qaani menyatakan bahwa meskipun militer Israel mengerahkan potensi besar—mulai dari pasukan elit hingga peralatan tempur canggih yang didanai pembayar pajak Amerika—mereka kini justru berada dalam posisi yang lebih tidak berdaya menghadapi keberanian pemuda Lebanon.
Qaani menyoroti kegagalan historis entitas Zionis yang dalam beberapa tahun terakhir tidak pernah mampu memenangkan perang demi kepentingannya sendiri maupun mencapai tujuan-tujuan strategis mereka. Sebaliknya, ia menilai harmoni di seluruh lini “Poros Perlawanan” saat ini jauh lebih kuat dan kokoh. Beliau menegaskan bahwa Hizbullah tidak berjuang sendirian; seluruh front perlawanan berdiri bersama para pejuang mereka dan siap bertindak kapan pun diperlukan untuk mendukung rakyat Palestina serta Lebanon yang tertindas.
Dalam konstelasi diplomasi, Iran secara tegas menjadikan gencatan senjata di front Lebanon sebagai prasyarat mutlak dalam negosiasi dengan Amerika Serikat di Islamabad. Sikap keras Teheran ini ditunjukkan dengan memboikot putaran kedua perundingan sebagai bentuk protes atas kegagalan pihak lawan dalam memenuhi syarat-syarat utama, termasuk pencabutan blokade laut di pelabuhan-pelabuhan Iran dan penghentian serangan Israel ke Lebanon. Langkah ini mengirimkan sinyal bahwa Teheran tidak akan berkompromi pada meja perundingan selama agresi di lapangan dan pengepungan ekonomi terhadap kedaulatan mereka masih terus berlangsung.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Anadolu Agency


