Pertempuran di Bint Jbeil, Lebanon Selatan, pada Rabu, 15 April 2026, menjadi titik nadir bagi militer Israel setelah seorang Letnan Kolonel dari Batalyon 52 terluka parah. Situs berita Israel, jdn, mengonfirmasi bahwa perwira menengah tersebut—yang diidentifikasi sebagai “A”—merupakan komandan ketiga berturut-turut dari unit yang sama yang tumbang sejak awal perang. Insiden ini terjadi hanya dua hari setelah ia nyaris tewas dalam serangan rudal anti-tank yang menghantam tank komandonya di wilayah yang sama. Evakuasi darurat dilakukan di bawah hujan tembakan menggunakan helikopter militer untuk membawanya ke rumah sakit, sebuah peristiwa yang digambarkan oleh media Israel sebagai “babak baru yang menyakitkan” bagi Brigade 401.
Kondisi di Bint Jbeil kini menjadi medan pertempuran paling mematikan bagi pasukan elit Israel. Selain tumbangnya komandan Batalyon 52, militer Israel juga mengakui bahwa 10 tentara dari Batalyon 101 Unit Pasukan Terjun Payung terluka dalam pertempuran jarak dekat di dalam kota tersebut, dengan tiga di antaranya dalam kondisi kritis. Hizbullah dilaporkan berhasil menjebak pasukan terjun payung ini dalam sebuah jebakan yang direncanakan dengan sangat matang, memicu baku tembak intensitas tinggi yang memaksa militer Israel melakukan evakuasi medis besar-besaran, baik melalui udara maupun jalur darat.
Meskipun militer Israel melakukan pengepungan ketat, serangan udara masif, dan penembakan artileri tanpa henti, pasukan darat mereka dilaporkan gagal mencapai target penting di Bint Jbeil. Laporan lapangan menunjukkan bahwa pasukan pendudukan tidak mampu menembus area strategis seperti stadion kota dan terjebak dalam konfrontasi sengit di pinggiran pasar tua. Perlawanan Islam di Lebanon menegaskan bahwa gerilya mereka terus menciptakan “pertempuran epik” melawan brigade elit Israel, sekaligus membuktikan bahwa penguasaan wilayah di Lebanon Selatan tetap menjadi misi yang mustahil bagi pasukan darat Israel.
Di saat yang sama, Hizbullah memperluas jangkauan serangannya dengan menghantam stasiun komunikasi di Dataran Tinggi Golan Suriah yang diduduki sebagai balasan atas pelanggaran gencatan senjata oleh Israel. Selain itu, berbagai konsentrasi pasukan, kendaraan militer, ruang kendali, serta barak di wilayah utara Palestina yang diduduki terus menjadi sasaran salvo roket dan drone. Eskalasi ini mempertegas bahwa perlawanan tidak hanya bertahan di perbatasan, tetapi juga aktif melumpuhkan infrastruktur strategis militer Israel sebagai respons terhadap agresi yang terus meningkat di desa-desa selatan Lebanon.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Jordan News



