Sumber yang dekat dengan badan pengambil keputusan urusan strategis di Iran mengonfirmasi kepada media massa Al-Mayadeen bahwa keputusan fundamental di Teheran adalah melanjutkan pertahanan hingga kepentingan nasional Iran dan mitra regionalnya terjamin. Sumber tersebut menambahkan bahwa segala pembicaraan mengenai rencana perdamaian yang tidak menyertakan elemen-elemen tersebut dianggap tidak sah. Hal ini diperkuat oleh pernyataan pejabat politik Iran dua hari lalu yang mengungkapkan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara rahasia berusaha menjalin komunikasi dengan Iran melalui perantara untuk mengakhiri perang, namun Teheran secara tegas menolak untuk merespons.
Di medan tempur, Korps Garda Revolusi Islam mengumumkan pada tengah malam antara Selasa, 10 Maret 2026 hingga Rabu, 11 Maret 2026 peluncuran gelombang ke-37 dari Operasi True Promise 4. Gelombang serangan yang diklaim sebagai yang terberat ini menargetkan pangkalan musuh di Erbil, Armada Kelima Amerika Serikat, serta wilayah Be’er Ya’akov di Tel Aviv sebagai respons defensif atas agresi bersama Amerika Serikat dan Israel yang sejak 28 Februari 2026 telah menyasar lingkungan perumahan, infrastruktur sipil, dan sumber daya alam Iran.
Media massa Bloomberg melaporkan adanya keretakan strategis antara Amerika Serikat dan Israel mengenai cara mengelola dan mengakhiri konflik ini. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa perang dengan Iran belum berakhir, sementara kesediaan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk membiarkan konflik berlarut-larut tetap tidak jelas. Michael Singh, mantan Direktur Senior Urusan Timur Tengah di Dewan Keamanan Nasional Amerika Serikat, menjelaskan bahwa perbedaan ini berakar pada masalah geografis; Amerika Serikat dapat meninggalkan kawasan setelah perang usai, sedangkan Israel harus tetap bertetangga dengan Iran dan menanggung segala konsekuensi jangka panjang dari konflik tersebut.
Kekhawatiran internal Amerika Serikat mulai meningkat setelah Israel membom sejumlah depot bahan bakar dan infrastruktur di Iran. Senator Amerika Serikat Lindsey Graham bahkan memperingatkan Israel agar berhati-hati dalam memilih target agar tidak melumpuhkan masa depan negara tersebut. Amerika Serikat mendefinisikan tujuannya secara militer, yakni merusak kemampuan nuklir, menghancurkan armada angkatan laut, serta mengeliminasi program rudal dan drone Iran. Sebaliknya, Israel lebih fokus pada serangan terhadap kepemimpinan Iran dan aparat ekonominya.
Dampak perang ini kini mulai membebani pemilih di Amerika Serikat menjelang pemilihan paruh waktu, dengan rata-rata harga bensin melonjak menjadi sekitar 3,46 dolar per galon, naik hampir 40 sen dari pekan lalu. Barbara Leaf, mantan Asisten Sekretaris Negara Amerika Serikat untuk Urusan Timur Dekat, mencatat bahwa sementara Netanyahu berusaha meraih keuntungan sebanyak mungkin dalam waktu singkat, beban biaya perang bagi Presiden Amerika Serikat Donald Trump meningkat jauh lebih cepat dibandingkan beban yang ditanggung oleh Netanyahu. Kondisi ini memicu ketidakpastian di kalangan pejabat Eropa mengenai apakah Washington dan Tel Aviv benar-benar berbagi tujuan akhir yang sama, yang meningkatkan risiko berakhirnya perang dalam situasi yang kacau.
Sumber berita: Al-Mayadeen
Sumber gambar: Business Insider

