Skip to main content

Syahadah Ayatullah Sayyid Ali Khamenei di “Rumah Kepemimpinan” pada Minggu pagi tidak hanya meninggalkan duka mendalam, tetapi juga menjadi pemantik bagi gerakan perlawanan global. Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menegaskan bahwa berpulangnya beliau merupakan titik tolak bagi kebangkitan besar melawan para tiran dunia. Dalam pernyataan resminya, pihak Kepresidenan Iran dengan tegas menyatakan, “Pemimpin Revolusi Islam, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, telah mencapai derajat syahadah. Beliau tetap memimpin umat Islam dalam melawan kekuatan kufur dan tirani hingga detik terakhir hayatnya.” Kepresidenan juga menggambarkan sosok beliau sebagai imam bagi janji-janji yang tulus serta harapan bagi kaum tertindas di seluruh dunia. Mereka memastikan bahwa agresi brutal ini akan menjadi lembaran baru bagi sejarah Islam dan tidak akan dibiarkan tanpa pembalasan yang setimpal. “Darah suci beliau adalah mata air yang akan terus mengalir, memperkuat jalur konfrontasi untuk mencabut akar kezaliman,” tegas pihak Kepresidenan sembari menyerukan agar rakyat Iran tetap bersatu dan tegak menantang badai ini.

Di tengah suasana duka yang mendalam, roda pemerintahan Iran bergerak cepat mengaktifkan mekanisme konstitusional guna memastikan keberlangsungan kepemimpinan. Perhatian kini tertuju pada Majelis Ahli, sebuah dewan fuqaha yang tengah bersidang di Teheran untuk menentukan sosok pengganti. Proses pemilihan ini sangat krusial dan bisa tuntas dalam hitungan hari. Berdasarkan data yang ada, Majelis Ahli diyakini telah melakukan pembicaraan intensif sejak Sabtu kemarin, sehingga nama pemimpin baru kemungkinan besar akan diumumkan secara resmi pada hari Minggu ini jika kesepakatan final telah tercapai. Sebagaimana tertuang dalam Pasal 111 Konstitusi Iran, jika seorang pemimpin wafat, Majelis Ahli wajib bertindak cepat untuk menunjuk suksesornya guna menjaga stabilitas negara.

Hingga pemimpin baru diumumkan secara resmi, otoritas tertinggi negara dijalankan oleh dewan kepemimpinan sementara. Dewan ini terdiri dari Presiden Republik, Kepala Kehakiman, dan salah seorang fuqaha dari Dewan Garda yang dipilih oleh Dewan Penentu Kepentingan. Struktur ini memastikan bahwa prinsip Velayat-e Faqih atau Kepemimpinan Faqih tetap tegak berdiri sebagai pilar utama negara. Posisi ini memegang kendali absolut atas seluruh cabang kekuasaan, termasuk komando tertinggi angkatan bersenjata dan Garda Revolusi, serta penentu arah kebijakan domestik maupun internasional. Ayatullah Sayyid Ali Khamenei telah memegang amanah ini selama 36 tahun sejak wafatnya sang pendiri, Ayatullah Ruhollah Khomeini, pada tahun 1989. Kini, di tengah gempuran agresi, Iran bersiap membuktikan bahwa sistem yang mereka bangun mampu bertahan dan justru semakin solid setelah kehilangan tokoh besar yang telah memimpin selama tiga dekade lebih tersebut.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: BBC