Televisi nasional Iran pada Minggu pagi, 1 Maret 2026, membawa kabar duka yang mengguncang dunia dengan mengumumkan syahadah Pemimpin Besar Revolusi Islam, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, di tempat kerja beliau di “Rumah Kepemimpinan” akibat serangan udara Amerika Serikat dan entitas Zionis. Tidak hanya sang Rahbar, agresi ini juga menyebabkan gugurnya jajaran tertinggi pertahanan Iran, termasuk Panglima Staf Angkatan Bersenjata Abdolrahim Mousavi, Menteri Pertahanan Aziz Nasirzadeh, Sekretaris Dewan Pertahanan Ali Shamkhani, serta Komandan Tertinggi Garda Revolusi Mohammad Pakpour. Kehilangan para pemegang komando tertinggi ini terjadi setelah Washington dan Tel Aviv meluncurkan serangan udara sistematis yang menyasar pusat-pusat kepemimpinan dan kawasan pemukiman di berbagai provinsi sejak Sabtu pagi.
Meskipun pemboman terus berlangsung di lingkungan pemukiman dan bangunan tempat tinggal sebagai upaya intimidasi, rakyat Iran di berbagai provinsi termasuk Teheran, Isfahan, dan Ahvaz justru turun ke jalan dalam jumlah besar. Koresponden Al-Mayadeen melaporkan bahwa massa yang meluap menantang ledakan bom dengan meneriakkan yel-yel kesetiaan kepada mendiang Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. Di wilayah selatan, tragedi kemanusiaan semakin memilukan setelah Kantor Kejaksaan Hormozgan mengonfirmasi bahwa jumlah korban dalam pembantaian di Sekolah Dasar Putri Minab telah melonjak menjadi 148 orang syahid dan 95 lainnya luka-luka. Selain itu, dua puluh atlet voli putri juga dipastikan gugur setelah serangan udara menghantam aula olahraga di kota Lamerd, Provinsi Fars.
Gelombang kemarahan atas syahadah para pemimpin Iran ini segera meluas ke luar perbatasan, memicu kerusuhan dan protes masif di berbagai negara. Di Baghdad, Irak, bentrokan pecah antara polisi dan demonstran di jembatan gantung menuju Zona Hijau, sementara kota Nasiriyah menyaksikan berkumpulnya massa dalam skala besar. Di Pakistan, Dewan Persatuan Muslim menyerukan aksi nasional yang berujung pada bentrokan berdarah; di Karachi, sedikitnya sembilan orang tewas saat massa mencoba menyerbu gedung Konsulat Amerika Serikat, sementara bentrokan serupa juga meletus di depan konsulat AS di Lahore. Solidaritas serupa terlihat di Bahrain, di mana ratusan warga berdemonstrasi di Pulau Sitra dan terlibat bentrok dengan aparat keamanan setelah pengumuman mobilisasi umum pasca-syahadah Rahbar.
Di India, demonstrasi juga pecah di berbagai kota sebagai protes atas penargetan para pemimpin tertinggi Iran. Kementerian Pertahanan Iran menyatakan bahwa meskipun kehilangan jajaran panglima tertingginya, militer dan rakyat Iran tidak akan mundur. Penegasan ini dibuktikan dengan berlanjutnya Operasi True Promise 4 yang terus menghantam pangkalan-pangkalan militer Amerika di kawasan dan jantung wilayah pendudukan Israel. Kepergian mendadak jajaran pimpinan militer seperti Abdolrahim Mousavi dan Mohammad Pakpour dipandang sebagai upaya musuh untuk menciptakan kekosongan komando, namun respons rakyat di jalan-jalan menunjukkan bahwa semangat perlawanan justru semakin mengental di tengah duka yang mendalam.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Anadolu Agency


