Skip to main content

Kelompok perlawanan siber “Hanzala” (HPR) baru saja merilis klaim yang mengguncang stabilitas intelijen entitas pendudukan dengan mengungkapkan rahasia gelap yang menghubungkan terpidana pelanggaran seksual Jeffrey Epstein dengan mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Barak. Melalui pernyataan resmi di platform X, kelompok yang menamakan diri sebagai Front Perlawanan Populer Pencari Kebenaran ini menegaskan bahwa serangan siber mereka telah dilakukan secara terus-menerus sejak dimulainya Operasi “Badai Al-Aqsa” dan akan terus meningkat hingga dampaknya terdengar di seluruh dunia.

Hanzala mengeklaim telah berhasil menembus barisan pertahanan siber paling krusial, termasuk kepolisian Israel dan Kementerian Keamanan pendudukan. Tidak berhenti di sana, mereka menyatakan telah menyusup ke dalam lingkaran dalam Benjamin Netanyahu, serta melumpuhkan sistem pertahanan “Octopus” yang selama ini dibanggakan Israel, membiarkannya tanpa perlindungan sedikit pun. Kelompok ini memosisikan diri sebagai pembalas bagi 70.000 korban tak berdosa serta miliaran orang yang mereka sebut telah diperbudak oleh sistem gaya hidup palsu yang dirancang oleh kelompok “pendeta” elit untuk menundukkan kemanusiaan dan para pemimpin dunia.

Dalam narasinya, Hanzala mengaitkan skandal Epstein sebagai sekilas gambaran kecil dari kenyataan pahit yang lebih besar mengenai bagaimana para pemimpin dunia dikendalikan. Mereka secara eksplisit menantang mentalitas arogan yang menganggap orang lain di luar kelompok mereka sebagai “goyim” atau bukan manusia. Sentimen inilah yang menurut mereka menjadi bahan bakar utama bagi determinasi kelompok Hanzala untuk mengungkap kebenaran di balik kerusakan yang telah ditimbulkan oleh sekte tersebut di wilayah Asia Barat.

Klaim peretasan ini menambah daftar panjang tekanan terhadap pemerintah Netanyahu yang sudah diguncang skandal internal keluarga. Dengan bocornya data yang menghubungkan tokoh-tokoh penting seperti Ehud Barak dengan jaringan kriminal internasional seperti Epstein, ketahanan nasional entitas tersebut kini berada dalam ancaman serius dari sisi perang informasi dan stabilitas politik domestik.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: Times of Israel