Skip to main content

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan harapannya pada hari Minggu, 1 Februari 2026, bahwa kesepakatan dengan Iran dapat dicapai dalam beberapa hari ke depan. Pernyataan optimistis ini disampaikan Trump kepada wartawan, meski di saat yang sama ia melontarkan gertakan dengan menyebutkan bahwa kapal-kapal perang terbesar dan terkuat di dunia saat ini sedang berada sangat dekat dengan pesisir Iran. Seorang pejabat senior AS mengungkapkan kepada Axios bahwa pemerintahan Trump telah menginformasikan Iran melalui berbagai saluran mengenai keterbukaan mereka untuk mengadakan pertemuan guna merundingkan kemungkinan kesepakatan tersebut.

Merespons dinamika ini, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, menyatakan pada hari Sabtu bahwa bertolak belakang dengan perang media yang sengaja dibuat-buat, struktur yang diperlukan untuk negosiasi saat ini sedang dibangun dan terus mengalami kemajuan. Sejalan dengan itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menyampaikan kepada CNN bahwa jika tim negosiasi Amerika mematuhi arahan Trump untuk mencapai kesepakatan yang adil dan setara—yang bertujuan mencegah perolehan senjata nuklir—maka kesepakatan sangat mungkin dicapai dalam waktu singkat. Abbas Araqchi menegaskan bahwa format negosiasi, baik langsung maupun tidak langsung, hanyalah masalah formalitas, karena yang terpenting adalah isi atau substansi dari perundingan tersebut.

Sinyal perdamaian ini muncul di tengah upaya internasional dan mediasi yang intens untuk meredakan ketegangan. Menurut laporan Reuters, jenderal-jenderal tinggi dari Amerika Serikat dan Israel dilaporkan telah mengadakan pembicaraan tertutup di Pentagon pada hari Jumat lalu untuk membahas eskalasi situasi dengan Iran. Pertemuan yang sebelumnya tidak diumumkan ini melibatkan Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Keane, dan Kepala Staf Israel, Eyal Zamir. Sepulangnya dari Washington, Eyal Zamir langsung bertemu dengan Menteri Pertahanan Israel, Yisrael Katz, pada hari Minggu untuk meninjau kesiapan operasional militer Israel dalam menghadapi segala kemungkinan skenario di kawasan.

Ketegangan ini semakin memuncak setelah Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, memberikan peringatan keras pada hari Minggu agar Amerika Serikat tidak memulai perang terhadap Teheran. Beliau menegaskan bahwa jika perang meletus, kali ini cakupannya akan menjadi perang regional yang luas. Di tengah ancaman militer dan pengiriman armada perang AS ke Teluk, laporan dari Axios menyebutkan bahwa Mesir, Qatar, dan Turki sedang bekerja keras mengorganisir pertemuan potensial di Ankara pada akhir pekan depan. Pertemuan tersebut direncanakan akan mempertemukan utusan Gedung Putih, Steve Wittkopf, dengan sejumlah pejabat senior Iran sebagai bagian dari upaya mediasi untuk membuka jalur negosiasi.

Langkah diplomatik ini juga diperkuat dengan kunjungan Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar, Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, ke Teheran pada hari Sabtu untuk bertemu dengan Ali Larijani dan Abbas Araqchi. Selain itu, Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi juga telah menjalin komunikasi dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian untuk menekankan pentingnya menghindari eskalasi dan menolak solusi militer. Dua hari sebelumnya, Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan juga telah menjamu Abbas Araqchi di Ankara dan menyerukan diplomasi sebagai satu-satunya jalan keluar bagi krisis ini, guna mencegah terjadinya perang besar di Timur Tengah.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: Daily Sabah