Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, dalam pernyataannya pada hari Minggu, 1 Februari 2026, mengutuk keras serangan brutal Israel yang menyasar berbagai wilayah di Lebanon dan Jalur Gaza. Beliau menegaskan bahwa penargetan terhadap pemukiman penduduk serta infrastruktur sipil merupakan pelanggaran nyata terhadap Piagam PBB dan tergolong sebagai kejahatan perang yang serius.
Mengenai situasi di Lebanon, Esmaeil Baghaei menyoroti berlanjutnya serangan udara serta pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang terus dilakukan oleh pihak Israel. Beliau menyatakan bahwa pihak-pihak penjamin gencatan senjata harus bertanggung jawab atas pelanggaran-pelanggaran ini dan mendesak komunitas internasional untuk segera mengakhiri impunitas atau kekebalan hukum yang selama ini dinikmati oleh Israel.
Terkait tragedi di Gaza, Esmaeil Baghaei mengecam keras serangan terhadap area pemukiman dan tenda-tenda pengungsi yang telah menyebabkan syahidnya lebih dari 30 warga Palestina, termasuk anak-anak. Beliau menekankan bahwa berlanjutnya kejahatan Israel di Jalur Gaza dan Tepi Barat, yang dibarengi dengan blokade total terhadap bantuan makanan dan obat-obatan, merupakan bukti nyata dari berlanjutnya kebijakan genosida kolonial yang telah dipraktikkan selama lebih dari 80 tahun. Beliau menyebut bahwa kebijakan ini berjalan dengan dukungan serta keterlibatan Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa, termasuk Jerman dan Inggris.
Esmaeil Baghaei mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Dewan Keamanan untuk segera mengambil tanggung jawab mereka dalam mengadili serta menghukum para pelaku kejahatan tersebut. Beliau menuntut penarikan penuh pasukan Israel dari Jalur Gaza, jaminan masuknya bantuan kemanusiaan tanpa hambatan, pembukaan kembali perbatasan Rafah secara total, serta dimulainya proses rekonstruksi Gaza dengan segera.
Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa hampir tidak ada hari yang terlewati tanpa tumpahnya darah di Lebanon selatan akibat serangan Israel yang terus berlangsung. Militer Israel terus melanjutkan kebijakan agresifnya terhadap desa-desa di wilayah selatan dan Lembah Bekaa tanpa adanya pencegah sama sekali. Di antara kota Doueir dan Abba di distrik Nabatieh, sebuah pesawat nirawak (drone) Israel menargetkan sebuah mobil di jalan yang menghubungkan kedua kota tersebut, yang mengakibatkan gugurnya seorang pemuda Lebanon. Sementara itu, drone Israel juga melancarkan empat serangan yang menyasar sebuah buldozer di kota Qanarit saat alat berat tersebut sedang membersihkan puing-puing sisa serangan udara sebelumnya, yang mengakibatkan satu orang terluka. Sumber lokal melaporkan bahwa kedua lokasi yang menjadi target tersebut telah menjadi sasaran serangan udara intensif oleh pesawat tempur Israel sekitar dua minggu lalu, yang menyebabkan hancurnya beberapa bangunan tempat tinggal secara total dan melukai sejumlah warga sipil.
Di sisi lain, Israel mengumumkan pembukaan gerbang perbatasan Rafah dengan cara yang lambat dan penuh penundaan, serta menyebutnya sebagai tahap eksperimental. Meskipun gerbang dibuka secara terbatas pada hari Minggu, 1 Februari 2026, di bawah pengawasan Mesir dan Eropa serta partisipasi perwakilan militer Israel, langkah ini dinilai hanya sebagai isyarat simbolis. Situasi kemanusiaan bagi dua juta warga Palestina di Gaza terus memburuk akibat pembatasan ketat Israel yang menghambat bantuan nyata. Hanya sejumlah kecil korban luka dan warga yang diizinkan melintas, sementara militer Israel tetap memegang kendali penuh atas daftar nama serta prosedur pemeriksaan keamanan.
Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) turut memberikan peringatan keras mengenai bahaya dari pembatasan jumlah orang yang melintas di perbatasan Rafah. Penasihat media UNRWA menegaskan bahwa kondisi dengan ritme seperti ini tidak dapat dipertahankan. Beliau mendesak adanya peningkatan mendesak jumlah pasien yang diizinkan keluar melalui perbatasan untuk pengobatan, mengingat sistem kesehatan di Gaza telah mengalami keruntuhan hampir total.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: Pars Today



