Skip to main content

Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran Abbas Araghchi memberikan teguran keras terhadap negara-negara Eropa yang dinilainya lebih memilih meningkatkan ekskalasi krisis daripada mengupayakan deeskalasi di kawasan Timur Tengah. Melalui pernyataan di platform media sosial X pada hari Jumat, 30 Januari 2026, Abbas Araghchi menyebut keputusan Uni Eropa untuk memasukkan angkatan bersenjata Iran ke dalam daftar organisasi teroris sebagai sebuah kesalahan strategis baru yang sangat fatal. Ia mengungkapkan bahwa di saat sejumlah negara non-Eropa sedang bekerja keras mencegah pecahnya perang skala penuh di kawasan, Eropa justru sibuk memperburuk situasi dengan mengikuti mekanisme snapback atas desakan Amerika Serikat. Abbas Araghchi juga mengkritik standar ganda kebijakan Eropa yang tetap diam terhadap aksi genosida oleh entitas Israel di Gaza, namun dengan cepat berpura-pura membela hak asasi manusia di Iran sebagai upaya untuk menutupi kemunduran peran serta status Eropa di mata dunia.

Lebih lanjut, Abbas Araghchi memperingatkan bahwa Eropa akan menjadi pihak yang paling terdampak jika perang besar benar-benar pecah, terutama melalui lonjakan harga energi yang akan sangat merugikan warga mereka sendiri. Ia menegaskan bahwa posisi Uni Eropa saat ini secara serius merusak kepentingan blok tersebut dan menyerukan agar negara-negara Eropa meninjau kembali kebijakan mereka daripada terus melakukan penghindaran dan eskalasi. Menurutnya, masyarakat Eropa berhak mendapatkan kebijakan yang lebih baik dari apa yang ditawarkan pemerintah mereka hari ini yang hanya mengejar agenda provokasi.

Menanggapi langkah Uni Eropa tersebut, Staf Umum Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran mengeluarkan pernyataan resmi yang menyebut klasifikasi Korps Garda Revolusi Islam sebagai organisasi teroris adalah langkah yang tidak logis dan tidak bertanggung jawab. Staf Umum menegaskan bahwa keputusan tersebut merupakan bentuk kepatuhan buta terhadap kebijakan agresif dan otoriter Amerika Serikat serta entitas Zionis. Pihak militer Iran menilai tindakan ini sebagai pelanggaran nyata terhadap hukum internasional, Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, serta prinsip penghormatan terhadap kedaulatan nasional sebuah negara. Mereka menekankan bahwa Korps Garda Revolusi Islam adalah institusi yang lahir dari rakyat dan berada di garis terdepan dalam melawan terorisme yang justru didukung oleh Washington dan Tel Aviv.

Pernyataan dari Staf Umum juga menyoroti pengorbanan Korps Garda Revolusi Islam dalam menumpas kelompok teroris seperti ISIS dan kelompok munafik yang selama ini mendapatkan dukungan langsung dari Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Pihak militer Iran memperingatkan bahwa konsekuensi serius dari keputusan provokatif ini akan menjadi tanggung jawab langsung para pengambil kebijakan di Eropa. Meskipun mendapatkan ancaman dari luar, angkatan bersenjata Iran termasuk Korps Garda Revolusi Islam berkomitmen untuk terus meningkatkan kemampuan pertahanan dan melindungi kemerdekaan serta keamanan nasional maupun regional dengan dukungan penuh dari rakyat Iran.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: RBC-Ukraine