Skip to main content

Pejabat Urusan Sumber Daya dan Perbatasan Hizbullah Nawaf al-Moussawi menegaskan bahwa Amerika Serikat saat ini sedang terjepit di antara dua pilihan, yaitu mencapai penyelesaian dengan Iran atau mencoba memukul pemerintahannya. Dalam wawancara eksklusif dengan Al-Mayadeen pada Rabu, 28 Januari 2026, Nawaf al-Moussawi menjelaskan bahwa Washington memang memiliki kemampuan teknis untuk menyerang, namun mustahil bagi mereka untuk meruntuhkan Iran. Hal utama yang menahan langkah militer Amerika Serikat adalah ketidakmampuan mereka menjawab pertanyaan krusial mengenai apa yang akan terjadi setelah serangan dilakukan. Nawaf al-Moussawi memperingatkan bahwa miskalkulasi apa pun dari pihak Gedung Putih akan membuka “gunung berapi” yang meluap ke seluruh kawasan, mengingat Amerika Serikat dan Israel memandang seluruh arena di Timur Tengah sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Nawaf al-Moussawi juga memberikan pembelaan terhadap pidato Sekretaris Jenderal Hizbullah Sheikh Naim Qassem yang menyatakan solidaritas penuh terhadap Iran. Ia menekankan bahwa Sheikh Naim Qassem hanya mendeskripsikan kenyataan objektif bahwa setiap upaya pembunuhan terhadap otoritas keagamaan tertinggi, seperti Sayyid Ali Khamenei, akan menuntut harga yang sangat mahal. Dalam kesempatan tersebut, Nawaf al-Moussawi juga mengungkapkan fakta yang jarang diketahui publik bahwa Sheikh Naim Qassem secara aktif terlibat langsung di medan perlawanan dan berada di lapangan bersama para pejuang. Terkait kemungkinan keterlibatan militer Hizbullah jika Iran diserang, ia memberikan jawaban strategis bahwa pihaknya akan mengambil keputusan yang diperlukan saat situasi tersebut benar-benar tiba. Ia mengingatkan bahwa selama ini pejuang Hizbullah di bawah kepemimpinan mendiang Sayyid Hassan Nasrallah selalu mengelola pertempuran dengan kalkulasi yang sangat presisi.

Mengenai situasi kedaulatan di dalam negeri, Nawaf al-Moussawi secara terang-terangan menyebut bahwa Lebanon saat ini berada di bawah pendudukan Amerika Serikat. Ia menunjuk fakta adanya personel militer Amerika Serikat yang membongkar peralatan tempur di Bandara Internasional Beirut sebagai pelanggaran nyata terhadap hukum penerbangan sipil internasional. Ia juga mempertanyakan penggunaan Bandara Hama yang tidak transparan dan menuding Washington berupaya melenyapkan gerakan perlawanan dengan memanfaatkan kemampuan masyarakat Israel untuk menanggung biaya perang yang berdarah. Terkait isu pelucutan senjata Hizbullah di wilayah selatan pasca-gencatan senjata, Nawaf al-Moussawi menegaskan bahwa tuntutan tersebut adalah “bab yang sudah tertutup.” Ia bahkan mengungkap ironi di mana pemerintah Lebanon meminta hulu ledak rudal “Kornet” kepada Amerika Serikat untuk memperkuat tentara nasional, namun permintaan tersebut ditolak mentah-mentah oleh Washington.

Dalam aspek pemulihan nasional, Nawaf al-Moussawi memastikan bahwa Hizbullah dan Gerakan Amal telah menyelesaikan survei kerusakan secara menyeluruh dan menetapkan mekanisme bantuan bagi warga. Ia memuji peran Ketua Parlemen Nabih Berri yang memiliki otoritas kuat dan menyebut hubungan kedua kelompok tersebut sebagai “satu jiwa dalam dua tubuh.” Nawaf al-Moussawi juga mendesak Perdana Menteri Nawaf Salam untuk segera menyetujui anggaran rekonstruksi dalam item 23 serta menyerukan penyelenggaraan konferensi internasional yang melibatkan negara-negara seperti Aljazair, Qatar, dan kemungkinan Arab Saudi. Di kancah global, ia memandang bahwa perlawanan Eropa terhadap tuntutan Donald Trump mengenai Greenland serta ketegasan Tiongkok menghadapi tarif dagang Amerika Serikat adalah bukti nyata bahwa kekuatan Washington bisa dipaksa mundur jika dihadapi dengan keteguhan prinsip.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: SyriacPress