Pada Selasa, 25 November 2025, pasukan pendudukan Israel menewaskan seorang pemuda Palestina setelah mengepung sebuah rumah di selatan Jenin, Tepi Barat bagian utara. Kementerian Kesehatan Palestina mengonfirmasi bahwa Sultan Nidal Abdul-Aziz, 22 tahun, dari Baqa Al-Hatab di timur Qalqilia, gugur ditembak saat pengepungan berlangsung. Saksi mata mengatakan tentara mengepung rumah tersebut, melepaskan tembakan dan melemparkan granat dalam jumlah banyak, lalu membawa pergi jenazahnya sebelum meninggalkan lokasi.
Militer Israel menyatakan bahwa Abdul-Aziz terlibat dalam serangan pada 18 Agustus 2024 yang menewaskan seorang pemukim Israel di zona industri dekat permukiman ilegal Kedumim. Insiden itu banyak disebut media Israel sebagai “operasi martil” karena laporan bahwa pelaku menggunakan palu saat menyerang.
Pada hari yang sama, tentara Israel juga menyerahkan pemberitahuan rencana penghancuran total terhadap 12 rumah dan penghancuran sebagian terhadap 11 rumah di Jenin.
Pembunuhan di Merka terjadi hanya beberapa jam setelah tentara Israel mengumumkan tewasnya seorang warga Palestina lain, Abdul-Rauf Khaled Shtayyeh, 30 tahun, di wilayah Nablus, setelah apa yang mereka klaim sebagai pengejaran selama 18 bulan. Organisasi hak asasi manusia mencatat bahwa pola pembunuhan seperti ini merupakan bagian dari operasi Israel yang kian meluas di Tepi Barat sejak Oktober 2023.
Operasi besar yang disebut Israel sebagai “Iron Wall” sejak diluncurkan pada Januari 2025 terus menyasar Jenin dan kota-kota di sekitarnya, mencakup serangan darat, penghancuran rumah, penahanan, dan penembakan yang menewaskan warga Palestina.
Sumber berita: Al-Manar
Sumber gambar: Arab News



